Imamat Itu Berkat Luar Biasa dari Tuhan

“Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 1:17)

Romo Antonius Dwi Pramono SCJ berjubah paling di depan | Foto: dokumentasi pribadi Romo Antonius Dwi Pramono SCJ

25 tahun menjadi Imam bukan waktu yang singkat, karena sudah cukup banyak tugas perutusan yang saya jalani dengan perjuangan yang tidak mudah. Tapi juga bukan waktu yang lama atau panjang, karena juga belum bisa dianggap tua untuk menjadi lansia, dan lagi masih cukup kuat untuk melakukan karya-karya besar.

Bagi saya, menjadi imam adalah suatu berkat yang luar biasa dari Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan Yesus sendiri yang memampukan saya untuk menanggapi panggilanNya. Tanpa rahmat berkat-Nya, saya tidak mampu menjadi imam dan menjalankan tugas perutusan-Nya selama ini hingga 25 tahun.

Berikut ini jejak tugas perutusan saya sejak saya menerima tahbisan imamat tanggal 27 November 1997 di Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan:

Paroki Santo Antonius Bidaracina, sebagai Frater Penpas, Diakon dan kemudian Pastor rekan.

Paroki Rasul Barnabas Pamulang, sebagai Pastor rekan.

Paroki Allah Mahamurah Pasang Surut, sebagai Pastor rekan dan kemudian Pastor Paroki.

Paroki Kabar Sukacita Kotabumi, sebagai Pastor rekan dan kemudian Pastor Paroki

Paroki Santo Yohanes Penginkil Bengkulu, sebagai Pastor rekan.

Tugas Pastoral Buruh Migran dan bidang sosial di JPR (Justice Peace and Reconciliation), residen atau tinggal di Komunitas Rumah Dehon Km 7 dan kemudian di Paroki Ratu Rosario Sebrang Ulu.

Paroki Bunda Maria Serui, sebagai Pastor Paroki.

Paroki Santo Petrus SP 3 Timika sebagai Pastor Paroki.

Paroki Santo Pius X Gisting sebagai Pastor Paroki.

Romo Frans de Sales SCJ bertanya kepada saya, apa pengalaman yang paling menarik sebagai imam dalam perjalanan 25 tahun imamat?

Banyak hal yang menarik dan meneguhkan saya sebagai imam Dehonian, cukup sulit untuk merumuskannya secara singkat pengalaman selama 25 tahun sebagai imam. Saya ringkaskan saja secara umum apa yang menarik dan meneguhkan saya sebagai imam.

Mgr. Aloysius Sudarso SCJ menahbiskan para imam | Foto: dokumentasi pribadi Romo Antonius Dwi Pramono SCJ

Pertama, sebagai imam di paroki, saya bisa mengalami kegembiraan, kedukaan, dan juga kecemasan bersama umat. Ternyata memang kehadiran seorang imam sangat diharapkan oleh umat, bukan hanya dalam pelayanan sakramen-sakramen, tapi juga dalam berbagai kesempatan dan kegiatan umat. Umat merasa gembira saat saya hadir dalam kunjungan keluarga mereka, pada saat pesta keluarga, pada saat musibah atau kedukaan yang dialami keluarga.

Dalam hal pelayanan sakramen-sakramen, saya berusaha menjalankan pelayanan yang murah hati, sehingga umat dimudahkan untuk mengalami berkat Tuhan namun tetap mengikuti aturan dan hukum Gereja yang berlaku. Dalam hal perjumpaan biasa sehari-hari dengan umat, saya juga senang bisa mengikuti cara adat kebiasaan umat dengan berbagai macam adat budaya mereka (Jawa, Timor, Flores, Papua, Toraja, dll). Bila ditanya mana tempat tugas yang paling mengesan? Tanpa mengurangi rasa syukur saya akan umat di tempat atau paroki lain, saya bisa mengatakan bahwa tempat tugas yang paling mengesankan adalah di Paroki Pasang Surut dan di Paroki Bunda Maria Serui, Papua. Terima kasih untuk umat dan juga keluarga-keluarga sudah meneguhkan panggilan saya sebagai imam.

Pelayanan di Tanah Papua yang amat membanggakan Romo Pram | Foto: dokumentasi pribadi Romo Antonius Dwi Pramono SCJ

Kedua, sebagai imam di bidang Pastoral Sosial, saya banyak belajar manjadi imam yang tabah dan sabar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Pastoral buruh migran adalah pastoral yang tidak populer, bahkan hampir tidak diminati oleh para imam. Sejak awal mendapat tugas ini, saya tidak tahu harus buat apa dan mulai dari mana. Sampai akhirnya saya dapat berjumpa dengan saudara-saudari kita umat yang berasal dari Timor Timur (sekarang Timor Leste), yang berada di wilayah sekitar Gasing, Palembang, dan di wilayah Sekayu. Mereka adalah keluarga-keluarga para pekerja migran yang bekerja di Pabrik Karet Gasing dan Perkebunan sawit PT Wahana di Sekayu. Tanpa bekal pengetahuan dan ketrampilan, tanpa sarana dan fasilitas yang mendukung (kantor, tim kerja dan transportasi), tanpa teman seperjalanan, saya memulai karya pastoral ini. Saya jalani tugas perutusan ini dengan kesulitan dan kesendirian. Tak terasa, saya menjalankan tugas perutusan itu selama 4 tahun. Mungkin karya pastoral yang saya mulai ini tidak begitu berarti untuk Propinsi SCJ Indonesia, namun syukur kepada Allah bahwa kehadiran saya bisa bermanfaat bagi mereka.

Masih banyak pengalaman yang menarik di tempat-tempat lain dimana saya pernah bertugas, karena di setiap tempat mempunyai keunikannya tersendiri, dengan segala pengalaman suka dan dukanya. Saya hanya menjalankan apa yang menjadi tugas perutusan saya sebagai imam, bukan untuk atau atas nama pribadi saya sendiri, namun untuk kemuliaan Allah dan menghadirkan Kerajaan Hati Kudus Yesus di tengah umat dan masyarakat.

Bila Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya untuk hidup dan diberi kesehatan, saya akan terus menjalani panggilan imamat ini hingga akhir. Sesuai dengan motto pribadi saya pada saat tahbisan imamat pada 27 November 1997, saya mau mengucap syukur kepada Tuhan: Puji syukur kepada Tuhan, atas rahmat Sakramen Imamat yang luar biasa selama 25 tahun.

** Antonius Dwi Pramono SCJ – Gisting, 13 November 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.