Pacarku Sudah Beristri

Romo Teja yang terhormat. Saya seorang gadis berusia 23 tahun. Saat ini saya sedang menghadapi problem yang lebih dari cukup untuk membuat saya menjadi stress dan bingung.

Saya mempunyai pacar, dia adalah seorang tentara (TNI). Kami berpacaran sudah satu tahun lebih. Dulu pertama kali kenalan, dia mengaku masih sendiri. Tetapi baru-baru ini saya mengetahui kalau dia telah beristri. Saat ini kalau tinggalkan dia bagi saya itu sulit sekali romo, sebab saya telah menyerahkan satu-satunya milik saya yang paling berharga. Di samping itu saya sangat mencintainya, begitupun dengan dia. Sampai saat ini sikap dia pun tidak berubah terhadap saya. Bahkan dia rela meninggalkan agamanya demi saya.

Tolonglah saya romo, supaya saya tahu apa yang terbaik yang harus saya lakukan. Apakah yang harus saya lakukan? Dapatkah kami menikah di Gereja, sedang dia telah beristri? Dapatkah seorang tentara bercerai dengan istrinya?

Jessica di J

Pacarku sudah beristri | Foto: Tabloid KOMUNIO KOMSOS KAPal

Jessica yang sedang bingung. Saya harus merenung dan berdoa untuk menjawab pertanyaanmu ini. Masalahnya cukup kompleks. Terutama adanya beberapa faktor yang membuat Anda terjebak dan akhirnya menjadi sulit untuk mengambil keputusan.

Soalnya sekarang bukan hanya bahwa Anda sungguh mencintai dia dan dia juga mencintaimu. Atau dia rela meninggalkan agamanya demi Anda. Juga bukan hanya terletak pada boleh atau tidaknya menikah secara gerejani. Tetapi menyangkut pola ‘rasa keadilan’ dan ‘nasib’ istri yang di¬tinggalkan dan anak-anak yang membutuhkan kasih sayang seorang bapak.

Terus terang saya tidak bisa dan tidak mampu mengatakan apa yang harus Anda lakukan. Yang jelas keputusan akhir ada di tanganmu. Namun saya mencoba memberikan suatu tanggapan atas masalah yang sedang Anda hadapi ini.

Reaksi saya secara spontan terhadap masalahmu ini adalah ‘kenapa tidak putus’ saja? Toh Anda belum terikat oleh suatu perkawinan? Anda masih berpacaran dan itu pun belum lama, belum lebih dari dua tahun. Namun saya menjadi sadar bahwa ada ‘sesuatu’ yang membuat Anda sangat berat mengambil keputusan itu. Mengapa? Karena Anda telah kehilangan ‘hal’ yang sangat berharga bagi seorang gadis. Anda telah masuk dalam situasi yang belum diperbolehkan oleh pasangan yang baru berpacaran.

Anda terjebak di situ dan sulit untuk keluar. Maju kena mundur kena. Mau maju terus, artinya meneruskan hubungan dengan pacarmu. Anda nekad, karena dia telah beristri. Lalu apa kata orang? Anda akan dicap merebut suami orang lain. Mau mundur, Anda telah kalah, karena Anda telah kehilangan hal yang berharga dalam hidup Anda. Mahkota kebanggaan seorang gadis telah kau serahkan kepada oang yang sebenarnya telah membohongimu. Lalu bagaimana?

Jessica yang terkasih, mengenai perkawinan di Gereja tidak menjadi masalah yang sangat rumit. Meski untuk menikah dengan dia yang telah beristri dibutuhkan rekomendasi dan dispensasi pemutusan hubungan nikah. Yang jelas, dia harus berpisah secara resmi dengan istri pertama. Seandainya dia tetap bertahan dalam agama yang dipeluknya, dibutuhkan pula dispensasi nikah beda agama.

Mengenai seorang anggota TNI yang menceraikan istrinya lalu menikah lagi, saya tahu ada peraturan yang mengharuskan seorang anggota TNI hanya mempunyai satu istri. Sepertinya mereka juga tidak diperkenankan menceraikan istri pertama demi alasan menikah lagi.

Seandainya mereka melanggar peraturan ini, maka akan dikenakan disiplin militer. Untuk lebih jelasnya akan lebih bijaksana bila Anda menanyakan hal ini kepada orang yang lebih kompeten.

Jessica, akhirnya dengan tegas saya mesti mengatakan bahwa keputusan dari masalah itu terletak di tangan Anda. Saya hanya bisa mengatakan bahwa untuk menikah dengan dia Anda harus mempertimbangkannya dengan sangat serius. Ada ketidakjujuran pada awal pertemuan Anda dengannya. Hal ini merupakan tanda tidak baik bagi suatu kehidupan berkeluarga.

Bagaimana sikap Anda bila setelah Anda menikah dengan dia, kemudian dia akan berbuat hal yang sama terhadap gadis yang lain? Apakah Anda yakin dia tidak akan berbuat hal yang sama lagi bila sudah menjadi suami Anda? Bagaimana perasaan istri dan anak-anaknya? Pedulikah Anda terhadap mereka? Bukankah dia sekarang ini bisa dikategorikan sedang ‘menyeleweng alias selingkuh’ dari istri sahnya?

Adil dan benarkah bahwa ‘atas nama saling mencintai’ Anda berdua harus mengorbankan orang lain yang lebih berhak menerima cinta itu? Sebagai seorang kristiani, apakah tindakan Anda ini sungguh sesuai dengan ajaran Sang Guru Sejati?

Saya menyarankan agar Anda bicarakan masalah ini dengan orang yang Anda anggap bijaksana. Sharingkan perasaan dan kegundahan hati Anda kepada mereka sebelum Anda harus mengambil keputusan. Ingat, sering kali ‘cinta’ membuat kita menjadi buta. Cinta membuat kita tidak mampu berpikir secara jernih dan hati kita dipenuhi dengan perasaan emosional. Mungkin juga bijaksana bila Anda minta bantuan Allah dalam doa. Bukankah kita percaya bahwa ‘jodoh’ adalah karuniaNya? Akhirnya, romo menyertaimu pula dalam doa. Bertahanlah dalam kehendak baikmu. Tuhan melimpahkan berkatNya.

Untuk keluarga-keluarga dan pribadi, Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Pertama, seandainya gadis yang mencintai pria yang sudah beristri itu adalah salah seorang anggota keluarga Anda, apa reaksi Anda terhadapnya?

Kedua, mengapa Anda bereaksi seperti itu?

Ketiga, seandainya Anda adalah pria yang menjalin hubungan cinta dengan gadis itu, apa yang semestinya Anda katakan kepadanya? Mengapa Anda mau mengatakan hal itu?

Keempat, langkah-langkah apa yang keluarga ambil untuk membantu anggota keluarga yang jatuh cinta dengan orang yang sudah berkeluarga? **

V. Teja Anthara SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.