Malu Ah, Ditolak Cewek!

Saya seorang karyawan perusahaan swasta. Saya seorang pemalu. Meskipun telah menduduki jabatan sebagai auditor, saya merasa malu untuk berpacaran. Saya takut ditolak. Memang ditolak itu hal yang sangat menyakitkan. Semenjak saya ditolak oleh seorang teman cewek, saya putus asa dan tidak mau lagi mendekati wanita.

Memang teman-teman telah banyak menasihati saya bahwa ditolak itu hal yang biasa bagi seorang cowok dan kita harus tetap berusaha. Sekarang kalau saya ditaksir seorang cewek, saya tidak berani mengungkapkanya. Saya sadari kekurangan saya ini dan sampai sekarang saya belum juga berpacaran. Padahal usia saya sudah cukup untuk menikah. Bagaimana saya dapat mengatasi persoalan ini? Romo, saya mohon bantuannya.

Salam, Hendri

Mau nembak, tapi takut ditolak – Foto: Tabloid KOMUNIO/ KOMSOS KAPal

Hendri yang pemalu. Dilihat secara sepintas, masalah yang sedang Anda hadapi ini sepertinya sepele. Tetapi bila dianalisa lebih lanjut kenyataannya tidaklah demikian. Sebenarnya di balik perasaan malu yang sekarang ini Anda alami, terutama malu untuk pacaran karena takut ditolak, ada trauma masa lampau yang menjadi sumber penyebabnya. Trauma itu adalah bahwa Anda tidak ingin pengalaman ditolak yang akhirnya membuat Anda putus asa itu terulang lagi.

Pengalaman pahit inilah yang membuat Anda sekarang ini malu untuk pacaran. Kalau saya boleh merasakan, sebenarnya perasaan yang sekarang ini dominan Anda alami bukanlah perasaan malu, tetapi perasaan takut. Maka untuk membantu Anda agar lebih berani mengungkapkan rasa cintamu terhadap teman cewekmu itu, rasanya perlu bagimu untuk kembali mengolah pangalaman trauma masa lampaumu itu.

Pertama-tama cobalah hadirkan kembali pengalaman pahit itu dan berdialoglah dengan pengalaman itu. Maksudnya adalah mengingat-ingat kembali peristiwa menyakitkan itu dan bertanyalah dalam dirimu mengapa Anda dulu ditolak? Terus terang untuk melakukan hal ini tidaklah gampang. Butuh kedewasaan diri dan keberanian untuk mengatasi emosi menyakitkan yang akan muncul. Carilah waktu hening, mungkin dalam situasi doa dan lakukan meditasi. Dalam refleksi pribadi itu cobalah menelusuri pengalaman yang menyakitkan itu dengan menggunakan akal budimu dan hindari emosimu terlibat.

Mengapa Anda dulu ditolak? Apa sebabnya Anda ditolak? Apakah karena Anda melakukan kesalahan atau karena penampilan Anda yang kurang simpatik? Atau mungkin Anda bukanlah tipe pria idaman dia? Bagaimana dengan perbedaan karakter, prinsip dan agama? Cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan refleksi itu dengan melihat aspek positifnya. Jangan menghakimi diri atau orang lain.

Hindarilah untuk menyalahkan diri atau orang lain. Tujuan dan arah dari refleksi diri ini adalah supaya Anda bisa lebih membedakan antara emosi Anda yang masih terlibat dan akal budi yang sehat. Dengan pembedaan ini Anda akan terbantu untuk lebih rasionalistis dalam menghadapi kenyataan kegagagalan itu.

Selain hal ini, romo tidak mengerti betul bagaimana Anda memahami dan mengalami arti ditolak. Teman-temanmu mengatakan bahwa ‘ditolak itu hal yang biasa bagi seorang cowok’. Kalau itu memang biasa, mengapa dalam diri Anda hal ini menjadi ‘luar biasa’? Adakah Anda mempunyai pemahaman yang lain dari mereka? Apa artinya ditolak dalam hubungan dengan cewek? Apakah Anda termasuk tipe orang yang ingin segalanya berjalan sempurna dan tanpa cacat?

Romo sendiri juga merasa bahwa pendapat teman-temanmu itu ada benarnya. Orang berpacaran itu kan seperti orang yang sedang masuk di suatu pasar pergaulan. Dalam pasar pergaulan itu kita saling menawarkan idealisme pribadi kita. Sebagai seorang cowok atau cewek kita sedang mencari suatu kenyataan dari idealisme kita itu. Siapa di antara mereka yang kiranya dirasa cocok dengan idealisme kita, lalu kita tawarkan itu kepada mereka.

Tawaran selalu mengandung dua resiko, yaitu diterima dan ditolak. Kalau saya diterima berarti saya menemukan idealisme saya dalam pasar pergaulan itu. Tetapi bila saya ditolak berarti itu resiko tidak enak yang harus saya hadapi. Kalau kita tidak berani mengambil dan menanggung resiko ditolak, maka kita juga tidak akan pernah berani berteman dan bergaul. Saya merasa Anda tidak berani menanggung resiko ditolak ini.

Saya merasa Anda perlu banyak memahami perasaan wanita. Anda mengatakan setiap Anda naksir seorang cewek, Anda tidak berani mengungkapkan perasaanmu itu. Apa yang Anda maksudkan dengan mengungkapkan perasaan di sini? Kalau ungkapan perasaan ini hanya Anda mengerti sebagai mengatakan pada temanmu itu ‘aku cinta padamu’, rasanya Anda perlu mengoreksi dan memperbaharui pemahaman Anda itu. Ungkapan cinta itu tidak hanya terungkap dalam kata ‘aku cinta padamu’. Banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mengungkapkan kata cinta. Bahkan ada orang yang mengatakan cinta bisa diungkapkan dengan seribu cara.

Akhirnya, bangunlah sikap kesatria dalam dirimu dan tumbuhkanlah rasa percaya diri. Siapa wanita yang akan mau dengan calon suami yang tidak mempunyai kepercayaan diri? Apakah pria semacam itu bisa menjadi pelindung, teman dan partner dalam hidupnya? Wanita mencari teman hidup itu bukan hanya sebagai pasangan yang mampu memberikan anak dan memberi nafkah, tetapi teman yang sungguh bisa menjadi sahabat, bapak, pelindung dan partner sampai akhir hidupnya.

Kesadaran akan adanya kelemahan dalam dirimu itu baik. Ini sudah merupakan langkah awal dalam suatu proses mengenal diri. Tetapi kesadaran itu tidak cukup kalau hanya berhenti pada kesadaran. Maka berusahalah untuk menjadi percaya diri dan menanggung resiko dari suatu tindakan yang akan kamu ambil, maka Anda akan menemukan ‘cewek yang bisa menjadi teman hidupmu itu. Bila Anda mempunyai orang dekat yang kamu percaya, baik bila Anda minta bantuannya untuk membantu Anda mengatasi trauma masa lampaumu. Kiranya cukup sekian dulu. Tuhan memberkatimu.

Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Pertama, mengapa Anda memiliki rasa takut untuk berpacaran setelah pacaran pertama gagal?

Kedua, bagaimana usaha-usaha Anda untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam diri Anda?

Ketiga, sebagai orang beriman, masihkah Anda memiliki kekuatan untuk mengampuni dan menerima diri apa adanya? Kalau Anda masih memiliki kekuatan itu, bagaimana Anda menggunakannya dalam perjalanan hidup Anda? **

V. Teja Anthara SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.