Romo Teja, saya seorang remaja kelas tiga SMA. Usia saya sekarang memasuki 17 tahun. Remaja tingtinglah. Sebentar lagi saya akan ujian. Seperti remaja-remaja umumnya, saya juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Saya ingin jadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik. Karena itu setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek ini, saya berniat ke Jawa. Saya mau mencoba untuk mandiri. Tidak seperti sekarang saya selalu tergantung kepada orang tua. (Hehehe… ingin bebas niye …). Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orang tua. Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orang tua. Kan belum punya kerjaan. Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orang tua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orang tua.
Namun Romo, saya punya satu persoalan. Orang tua saya tidak mau kehilangan saya. Mereka ingin agar saya tetap tinggal di rumah. Yah, kalau mau kuliah di Palembang saja. Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh. Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya. Padahal hati ini ingin belajar mandiri. Sampai kapan saya akan tergantung terus pada orang tua kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mnengenai diri sendiri? Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri.
Saya juga heran kenapa orang tua saya begitu kuatir akan saya. Bagaimana saya dapat mengatasi persoalan ini, Romo? Saya mohon bantuan.
Salam,
Josephine

Josephine yang ingin mandiri, terima kasih banyak atas suratmu dan pertanyaanmu yang mungkin sekali pada saat sekarang ini banyak dialami oleh para remaja seusiamu. Ada beberapa hal yang ingin romo tanggapi.
Pertama, saya sangat bersyukur bahwa pada jaman seperti ini di mana banyak orang meragukan kesungguhan kaum muda menghadapi masa depan, terutama nampak dalam ‘budaya instant’, masih ada seorang remaja seperti Josephine yang mempunyai idealitas dan cita-cita yang indah dan terpuji. Saya yakin orang tuamu sangat bangga terhadapmu. Mereka pasti akan mendukung cita-citamu itu, meski Anda mesti berkorban dan bekerja keras demi terwujudnya cita-cita luhur itu.
Kedua, saya mengerti dan sangat mendukung keinginanmu untuk menjadi anak yang lebih dewasa dan matang. Namun ada beberapa hal yang mungkin baik untuk kamu renungkan dan pertimbangkan. Selama ini Anda merasa segala sesuatu diputuskan orang tuamu dan Anda tidak suka itu. Karena itu Anda ingin mandiri. Sejauh saya memahami mandiri yang Anda harapkan adalah kesempatan untuk mengambil keputusan penting mengenai diri dan masa depanmu. Kesempatan itu akan Anda peroleh dengan leluasa bila Anda berada jauh dari orang tua, yakni kalau bisa sekolah di Jawa. Kalau pemahamanmu terhadap mandiri itu demikian, saya merasa Anda mesti mengoreksi dan mendalaminya lagi.
Mandiri mesti dipahami sebagai kemampuan berdiri di atas kakimu sendiri. Artinya, aku mampu mengurus diriku sendiri. Hal ini akan tampak dalam Anda mempertanggungjawabkan pribadimu. Bagaimana Anda menggunakan kebebasan yang kamu miliki ini secara dewasa dan tepat? Kesempatan untuk menjadi diri sendiri seperti ini bukan diberikan oleh orang lain, tetapi Anda ciptakan dan temukan sendiri. Namun rasanya justru kesempatan seperti ini kurang Anda pergunakan secara maksimal.
Menurut saya, Josephine agak terbuai oleh perlakuan orang tua yang membuat Anda menjadi ‘manja’dan tergantung. Akibatnya, Anda menjadi seperti anak kecil yang tergantung pada orang lain. Atas pertimbangan di atas kepergianmu untuk sekolah ke Jawa, agar mandiri kiranya kurang prinsipiil. Soalnya, untuk mandiri, dewasa dan matang Anda tidak perlu pergi ke luar kota. Di tempat Anda sekarang ini pun Anda akan bisa lebih mandiri. Saya tidak mau menghalangimu sekolah ke Jawa, tetapi kalau motivasi sekolah itu hanya karena Anda ingin jauh dari orang tua dan kemudian lebih mempunyai kesempatan untuk menjadi mandiri, bisa mengambil keputusan sendiri, maka semua itu tidak cukup.
Kekuatiran orang tuamu justru semakin bisa dimengerti di sini. Apakah Anda sungguh bisa diandalkan untuk bisa hidup sendiri dan mengatasi masalahmu sendiri di tempat yang jauh dari orang tua, sementara waktu Anda bersama orang tuamu hal yang demikian belum pernah kamu perlihatkan kepada mereka. Maka mengerti dan pahamilah perasaan papa dan mamamu.
Rasanya ungkapan kasih orang tuamu selama ini belum Anda mengerti secara penuh dan jelas. Anda melihat mereka sebagai suatu bentuk otoritas atau kekuasaan di luar dirimu yang Anda anggap membatasi kebebasanmu. Namun sebenarnya tidak demikian. Mereka mempunyai nilai tertentu yang diperjuangkan demi kebahagiaanmu. Dalam kondisi negara seperti sekarang ini melepaskan anak yang dicintai pergi jauh dari perlindungan keluarga menjadi terlalu riskan, mengandung bahaya yang tinggi.
Akhirnya, semoga Josephine bisa mempertimbangkan semua ini sebelum mengambil keputusan yang menentukan bagi hidupmu. Jangan lupa melibatkan Tuhan dalam segala perjuangan hidup dan masa depanmu. Berkat Tuhan menyertaimu.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, apa pengertian Anda tentang kebebasan?
Kedua, apa pandangan Anda terhadap sikap orang tua yang seolah-olah membatasi gerak langkah Anda dalam meraih masa depan? Mengapa Anda berpandangan demikian?
Ketiga, seandainya orang tua Anda mengijinkan Anda untuk melanjutkan sekolah di tempat yang jauh dari orang tua, sampai sejauh mana Anda dapat mempertanggungjawabkan kepercayaan orang tua Anda itu? **
