Rm Anselmus Inharjanto SCJ yang akrab dipanggil Romo Een membagikan pengalamannya di tahun 1998 saat mengucapkan kaul pertama. Beliau menyebutkan bahwa di angkatannya ada 12 orang yang dikumpulkan dari berbagai seminari. Pengalaman disatukan dari berbagai tempat ini menghadirkan suasana saling berdiskusi, saling belajar, serta saling mengenal.

Romo Een juga membawa kenangannya mundur saat melakukan ziarah ke makam Yakobus. Perjalanan ziarah ini memunculkan sebuah permenungan mendalam bagi beliau dan para konfraternya.
“Setiap perjalanan pasti butuh bekal, pasti ada luka, juga terbuka akan hal-hal baru yang ditemukan sepanjang perjalanan. Itu juga yang kami temukan dalam perjalanan panggilan kami,” tuturnya.

Bagi Romo Een, perjalanan panggilan ini seperti pendakian gunung, di mana pendaki mencukupkan diri pada hal-hal yang diperlukan saja. Ada 3 tipe pendaki; the quitter yang semangat dan berkobar-kobar di awal, the camper, yang berkemah dan merasa nyaman di kemahnya, dan the climber, orang yang benar-benar mendaki ke puncak untuk mencapai tujuannya. Tipe pendaki terakhir inilah yang beliau ingin wujudkan dalam panggilannya, yang menjadi puncak atau tujuan terakhirnya.
“Semoga kami bisa terus berkontribusi pada kongregasi dan masyarakat. Terima kasih atas dukungannya.”
Meski Sakit Tetap Bahagia
Romo Teja, mewakili konfraternya yang merayakan 40 tahun hidup membiara, mengenang panggilannya dengan rasa syukur karena mengalami perubahan zaman. Romo Teja dan 11 rekannya mengucapkan kaul pertama, namun hanya 5 orang yang ditahbiskan sebagai imam. Romo Teja mengaku bahagia dan bangga bisa mencapai 40 tahun hidup membiara. Meski sempat sakit beberapa waktu lalu, tidak menjadi hambatan bagi beliau untuk tetap berkarya.

“Meski saya sakit, saya tetap bahagia. Saya makin punya banyak waktu untuk merenung, bisa dilihat renungannya di tiktok saya,” kata Romo Teja yang disambut tawa umat.
Bagi beliau, menjadi biarawan bukan berarti tidak bisa bahagia seperti umat lain yang memilih hidup berkeluarga. Menjadi biarawan tetap bahagia, karena menjadi saksi Kerajaan Allah yang nyata di tengah umat.
“Saya berharap sampai mati tetap setia (menjadi imam). Terima kasih kepada kongregasi yang memberikan kesempatan begitu indah, sehingga kami bisa mengabdikan diri. Terima kasih atas doa dan dukungannya,” kata Romo Teja mengakhiri sambutannya. **
Maria Sylvista
