Rm Yohanes Dwi Feri Antoro SCJ ingin menjadi seorang imam dimulai ketika masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas Yos Sudarso Metro. Ia tinggal di Asrama Putra Leo Dehon. Ia berkisah bahwa ia sempat merasa minder ketika pertama masuk asrama, sebab teman-temannya berasal dari daerah ‘kota’ dibandingkan dirinya.

“Saya juga menyadari dari segi intelektual berbeda dengan mereka, namun saya terus berjuang. Saya tekun agar tidak tertinggal dengan yang lainnya. Saya merupakan angkatan pertama di asrama Leo Dehon. Waktu itu anak asrama berjumlah kurang lebih sembilan orang,” jelas pria kelahiran Kulon Progo, 23 Oktober 1993 ini.


Ia bersaksi bahwa imannya terbina dengan baik di asrama. Setiap hari merayakan Perayaan Ekaristi dan panggilan menjadi imam pun bersemi.

“Kerinduan saya menyambut Tubuh dan Darah Kristus semakin mendalam. Maka ketika Perayaan Ekaristi, teman-teman saya selalu berkata: Fer, sana minta berkat romo. Saya pun menolak, karena saya malu sudah besar. Pengalaman inilah yang menumbuhkan benih-benih panggilan. Maka ketika ada kesempatan pembukaan Komuni Pertama, saya langsung mendaftar. Saya menerima Komuni Pertama sudah kelas X SMA. Saya sungguh merasa senang, karena apa yang saya impikan dan rindukan sungguh terwujud. Ketika pertama kali menyambut Tubuh dan Darah Kristus ada perasaan terharu. Inilah awal saya merasa terpanggil,” urai pemilik motto ‘Lakukanlah segala pekerjaan dengan kasih’ (1 Kor. 16:14).




Benih panggilan yang muncul di asrama itu dirawat dan dimurnikan dalam proses pendidikan sebagai calon imam dan biarawan. Ia semakin mengimani Allah itu setia.




“Saya merefleksikan bahwa kesetiaan dalam panggilan ini pertama-tama bukan karena diri saya, melainkan berkat campur tangan Allah. Allah selalu membimbing, meneguhkan dan memurnikan panggilan ini. Karena itu, saya terus melibatkan Allah dalam panggilan, dan tugas perutusan yang saya terima,” ungkap imam Dehonian ini.

Dalam refleksinya, ia yakin bahwa Kasih Allah yang begitu besar sungguh menjadikannya terus dimurnikan dalam hidup panggilan ini. Kasih Allah yang besar rela mengutus Putera-Nya demi menyelamatkan manusia. Pengorbanan Kristus inilah yang menjadikan hidupnya semakin diteguhkan dan memurnikan dalam panggilan. Ia menyadari ada kelemahan dan kekurangan, namun itu bukan menjadi halangan atau hambatan dalam menjawab panggilan Tuhan. Dalam karya dan tugas pelayanan, ia hayati sebagai sebuah persembahan diri kepada Allah.

“Menjadi seorang imam merupakan rahmat istimewa yang sungguh membawa sukacita. Saya pribadi mengalami sukacita. Kiranya inilah kasih Allah yang sungguh saya rasakan, yaitu boleh menjadi perpanjangan Allah untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Maka, menjadi seorang gembala berarti harus mampu menuntun, membimbing dan mampu menggembalakan domba-domba dengan penuh sukacita,” tegas imam SCJ yang mengikrarkan kaul kekal pada 20 Juli 2022. **
RD Widhy
