Bagi RD Chanel Doroteus Odjan Soge, keluarga merupakan seminari pertama. Dorongan dan motivasi yang kuat dari keluarga membuatnya tetap setia menjalankan panggilan. Sejak kecil ia ditempa oleh keluarga untuk mencintai Ekaristi. Melalui kebiasaan tersebut, iman kekatolikannya bertumbuh dan benih panggilan menjadi imam bersemi di dalam hati. Hal ini tampak dari motivasinya ingin menjadi imam terkait erat antara ekaristi, iman, dan imam.

“Motivasi saya menjadi imam pertama dan utama lahir dari sebuah rasa ingin tahu yang tinggi berkaitan dengan misteri perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan, dan itu hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang karena tahbisan mengubah martabatnya menjadi seorang imam,” kata imam Diosesan KAPal kelahiran Kupang 28 maret 1991.


Ia mengisahkan bahwa rasa penasaran yang begitu tinggi membimbingnya untuk masuk ke seminari. Ia juga terdorong untuk dekat dan berkenalan dengan sosok imam-imam yang punya peranan dalam hal konseklir, merubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan saat Perayaan Ekaristi. Upaya-upaya yang dilakukan itu dimaksudkan untuk menemukan jawaban dari rasa ingin tahu yang tinggi tadi.



“Saya pernah bertanya kepada seorang imam waktu di seminari menengah, ‘Romo apakah benar roti dan anggur yang dikonsekrir saat misa itu betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Tuhan, kalau memang iya kenapa waktu saya menerima hosti pada saat komuni bukan daging tapi malah hanya roti yang rasanya hambar?’ Romo itu pun menjawab, sekarang kamu fokuskan dulu dan selesaikan SMA seminarimu, nanti pada saat sudah jadi frater, kamu akan paham dan akan temukan jawabanya,” cerita alumnus Seminari Sta. Maria Imaculata Lalian Atambua, NTT, ini.
Awalnya, ia sangat kecewa dengan jawaban tersebut. Namun, seturut pesan imam itu, ia menekuni proses pembinaan sebagai calon imam. Ia justru semakin terpanggil untuk mencintai Ekaristi, mengimani misteri agung Ekaristi; dan panggilannya menjadi imam pun semakin kuat.

“Saya tetap fokus untuk menyelesaikan pendidikan sebagai calon imam. Saat mempelajari filsafat dan teologi, di sini saya mulai belajar banyak hal untuk menemukan jawaban dari pertanyaan saya waktu di seminari menegah. Saya disadarkan, Tubuh dan Darah Tuhan memang yang utama dalam Perayaan Ekaristi namun tidak mengesampingkan peran imam. Imam sangat memiliki peranan penting dalam merayakan misteri Ekaristi yang tidak dapat dicerna oleh rasio manusia. Imam adalah perantara umat beriman menemukan Tuhan dalam keseharian hidup. Imam lewat kesehariannya berjuang dalam kefanaannya membawa Tuhan yang tak terlihat pada manusia, agar keselamatan melingkupi seluruh umat manusia,” tegas pemilik motto, ‘Jangan takut, percaya saja’ (Mrk. 5:36). **
RD Widhy
