Guru: Pengajar Iman, Lahir Imam

Bagi RD Herman Putra Mbui Djoka, seusai pendidikan SMA melanjutkan pendidikan di seminari merupakan sesuatu yang mustahil. Ia sudah merancang hidupnya untuk menjadi guru Matematika atau guru Kimia. Tak disangka, kini ia justru dipanggil menjadi guru iman sebagai seorang imam.

“Setelah selesai mengenyam pendidikan di bangku SMA tidak pernah terlintas dalam benak saya tentang seminari. Merupakan suatu yang mustahil bagi saya melanjutkan pendidikan di seminari. Yang terlintas dalam pikiran saya waktu itu adalah melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Pada waktu itu keinginan saya adalah kuliah, ingin menjadi guru Matematika atau guru Kimia,” kisah imam Diosesan Keuskupan Agung Kupang ini.

Romo Herman kecil | Foto: Dokumentasi pribadi Romo Herman

Angannya untuk kuliah lalu menjadi guru tidak direstui oleh kedua orangtuanya. Ia pun memutuskan mencari informasi tentang pekerjaan. Justru dalam pencarian itu, pada Juni 2012 ia menemukan informasi tentang kehidupan di Seminari Menengah Kelas Persiapan Atas Santo Paulus Mataloko (KPA Mataloko) dari sepupunya yang sudah menyelesaikan pembinaan di sana.

“Ia bercerita tentang kehidupan di seminari tersebut. Dari cerita itu, dalam diri saya mulai muncul rasa penasaran ingin mengenal kehidupan di seminari, tetapi juga ada keraguan dalam diri, apakah saya sanggup menjalani hidup di seminari. Pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan di seminari. Saya mendapat arahan dan bantuan dari seorang pastor bernama Rm Emanuel Weroh SVD. Atas bantuan beliau akhirnya pada Juli 2012 saya diterima dan memulai pembinaan dan pendidikan di KPA St. Paulus Mataloko,” ujar imam kelahiran Wolosoko, Ende, Flores, 25 Juni 1992, ini.

Romo Herman saat masih pendidikan calon imam Keuskupan Agung Kupang | Foto: Dokumentasi pribadi Romo Herman

Tahapan pembinaan sebagai calon imam projo Keuskupan Agung Kupang pun ia tekuni. Pada tahun 2014-2015 ia menjalani masa Tahun Orientasi Rohani (TOP) Lo’o Damian Atambua. Pada tahun 2015-2019 ia menjalani pembinaan sebagai calon imam di Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang sekaligus menjadi mahasiswa Filsafat di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

“Dalam proses pembinaan, banyak hal yang saya peroleh. Dinamika pembinaan tidak membuat semuanya berjalan mulus. Ida muncul rasa bosan dalam diri yang mempengaruhi saya ingin tidak melanjutkan panggilan untuk menjadi imam,” cetus pemilik motto dari Kitab Pengkotbah 3:11b “Manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”.

Romo Herman | Foto: Dokumentasi KOMSOS KAPal

Ia menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Yesus Gembala Yang Baik Kalabahi, Kabupaten Alor (2019-2021). Tepat pada 31 Mei 2023, bersama 23 teman Frater (18 orang calon imam dari tiga keuskupan dan 6 orang lainnya CMF dan Scoolapio) ditahbiskan menjadi diakon oleh Mgr. Petrus Turang di Kapel Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, Kupang. Kini ia sudah menjadi imam yang memberi diri untuk menjadi pengajar iman. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa seorang imam pun boleh mengajar Matematika atau Kimia. **

RD Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.