Proses Kanonisasi Alkitab

Mulanya, Alkitab tidak seperti buku, melainkan kumpulan-kumpulan naskah yang ditulis oleh para penulis Kitab Suci dalam kurun waktu tertentu. Lalu mengapa bisa sampai menjadi Kitab Suci yang terbuku seperti sekarang ini? Prosesnya sangat panjang dan ada proses yang dinamakan dengan kanonisasi.

Kanonisasi kata dasarnya kanon, berasal dari kata Yunani Kuno κανών, yang dapat diartikan buluh atau tongkat pengukur. Kata ini digunakan para penulis kuno untuk menunjukkan suatu aturan atau standar. Bagaimana proses kanonisasi ini? Yuk, baca ulasan berikut ini!

Ibrani adalah salah satu bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama | Foto: Pinterest

Kitab Suci Perjanjian Lama

Kitab Suci Perjanjian Lama ditulis jauh sebelum Inkarnasi Yesus, sedangkan Kitab Perjanjian Baru ditulis kira-kira pada akhir abad pertama Masehi. Isi Kitab Perjanjian Lama Katolik, tidak terlepas dari Alkitab Yahudi.

Bermula Kanon di kalangan Yahudi Palestina. Mereka mengkanonisasi Alkitab Ibrani, yang disebut תַּנַ”ךְ‎ (read: Tanakh). Proses kanonisasi ini terjadi kisaran 200 tahun SM sampai 200 M. Guys, Alkitab Ibrani dapat dibagi dalam tiga bagian besar yaitu תּוֹרָה (read: Torah), נְבִיאִים (read: Nəḇî’îm), dan כְּתוּבִים (read: K’thubhim).

Dikisahkan bahwa Musa menerima Hukum Allah dalam dua loh batu | Foto: Pinterest

Torah berati Taurat atau Kitab Hukum Musa, mulai dari Kitab Kejadian atau בראשית (read: Beresyit) sampai Kitab Ulangan atau דברים (read: Devarim).  Nəḇî’îm berarti Nabi-nabi, yang dimulai dari Kitab Yosua sampai Maleakhi. K’thubhim artinya tulisan-tulisan, yang dimulai dari Kitab Mazmur sampai 2 Tawarikh.

Tentang angka tahun sampai kitab-kitab itu dikumpulkan, itu sangat bervariasi. Misalnya saja, ada literatur yang menyebutkan Kitab Torah, ditemukan di Bait Suci pada masa pemerintahan Raja Yosia, sekitar 621 tahun SM. Nəḇî’îm yang kalau dilihat dari prolog Ecclesiasticus itu sekitar 132 tahun SM. Sedangkan K’thubhim berkisar dari 165 tahun SM hingga pertengahan abad kedua Masehi.

Salah satu manuskrip Alkitab | Foto: Pinterest

Namun, urutan besar ketiga kitab ini dapat kita temukan dari perkataan Tuhan Yesus sendiri dalam Injil Lukas:

“Bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi, dan kitab Mazmur.”

(Lukas 24:44)

Tidak berhenti di sana, sejarah berkembang ketika umat Yahudi berada di Mesir. Secara politik, sosial, dan ekonomi, mereka menggunakan Bahasa Yunani. Ini membuat mereka menerjemahkan Alkitab Ibrani ke dalam Bahasa Yunani. Terjemahan ini dilakukan di era pemerintahan Ptolemaios II Philadelphos (285 – 246 SM), oleh 72 orang ahli Kitab Ibrani.

Secara Tradisi, mereka ini mewakili kedua belas suku Israel, masing-masing suku 6 orang, yang kalau dikalikan 6×12 itu 72. Informasi ini bisa kita baca di Talmud.

“Raja Ptolemaios mengumpulkan 72 sesepuh. Dia menempatkan mereka di 72 kamar, masing-masing di kamar terpisah, tanpa mengungkapkan kepada mereka alasan mereka dipanggil. Dia memasuki ruangan masing-masing dan berkata: ‘Tuliskan untukku Taurat Moshe, gurumu.’ Tuhan menaruh dalam hati masing-masing orang untuk menerjemahkan dengan cara yang sama seperti yang dilakukan orang lain menurut tradisi – 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel.”

Terjemahan Alkitab Ibrani ke dalam Bahasa Yunani ini rampung sekitar 250 – 125 tahun SM. Sebutan terjemahan Yunani ini adalah Septuaginta, yang dalam Bahasa Latin berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penerjemah.

Beberapa manuskrip Septuaginta | Foto: Pinterest

Ada perbedaan jumlah Kitab antara Alkitab Ibrani dan Alkitab Yunani. Ini karena adanya teks-teks lain yang tidak ada dalam Alkitab Ibrani, dimasukkan ke dalam Septuaginta. Perbedaan jumlah kitab ini yang membuat pada abad ke-16, muncul istilah protokanonika dan deuterokanonika. Namun, apapun yang terjadi, terjemahan septuaginta inilah yang dipakai oleh Gereja Perdana, termasuk dalamnya para rasul.

Konon, sebanyak 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru berasal dari Septuaginta. Fyi, Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Maka, septuaginta menjadi titik terjemahan Alkitab Latin, yang menjadi cikal bakal terjemahan Alkitab Kristen, yang secara spesifik di sini Kristen Katolik, dalam berbagai bahasa di seluruh dunia.

Manuskrip Vetus Latina, Alkitab Latin Tua | Foto: Pinterest

Kitab Suci Perjanjian Baru

Gereja Katolik ada mendahului Kitab Suci Perjanjian Baru. Artinya, semasa Gereja Perdana, pengajaran iman masih sebatas lisan. Ini kita kenal dalam Gereja kita dengan sebutan Tradisi Suci. Namun seiring perkembangan umat yang semakin meluas, maka para rasul dan murid Tuhan menuliskan ajaran-ajaran lisan ini, yang kita kenal dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Maka dalam Gereja kita, Kitab Suci tidak menjadi satu-satunya sumber iman, ada juga Tradisi Suci dan Magisterium.Proses kanonisasi Alkitab Katolik mencapai puncaknya pada tahun 382 ketika Konsili Roma, yang diselenggarakan di bawah kepemimpinan Paus Damasus, mengumumkan kanon kitab suci yang terdiri dari 73 kitab: 46 Kitab Perjanjian Lama dan 27 Kitab Perjanjian Baru.

Kanon alkitabiah ditegaskan kembali oleh konsili regional Hippo (393) dan Kartago (397), dan kemudian secara definitif ditegaskan kembali oleh Konsili ekumenis Florence pada tahun 1442.

**Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.