Renungan Harian Rabu, 10 Desember 2025

Yes 40:25-31; Mzm 103:1-2.3-4.8.10; Mat 11:28-30; BcO Yes. 25:6-26:6

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Kebahagiaan yang Menjadi Penuh

Saudara-saudari yang terkasih, di tengah hiruk-pikuk hidup yang kita alami setiap hari, bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk kembali kepada Yesus. Dalam Injil Matius 11:28–30, Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Perikop ini sangat jelas menunjukkan bahwa ajakan Yesus tertuju kepada kita yang sering merasa letih dan lesu oleh berbagai pergumulan hidup.

Dikisahkan tentang seorang pendaki yang memanggul ransel berisi batu-batu besar—simbol kekhawatiran, rasa bersalah, dan tekanan hidup. Setiap langkah terasa amat berat; bahunya sakit, dan napasnya tersengal. Tiba-tiba datang seorang pendaki lain dengan wajah teduh dan penuh kasih. Ia tidak meminta pendaki itu membuang ranselnya, tetapi justru mengajaknya bertukar ransel. Ia mengambil ransel yang berat itu dan memberikan ransel ringan yang penuh kedamaian, sukacita, dan kekuatan.

Lebih dari itu, ia mengajak pendaki tersebut berjalan bersama, terhubung oleh sebuah “kuk” yang menyatukan mereka. Kuk ini bukanlah beban tambahan, melainkan alat yang membuat sang pendaki kuat, karena temannya memikul sebagian besar bebannya sambil menuntun arah perjalanan. Dengan demikian, pendakian yang tadinya terasa amat berat kini menjadi ringan, sebab ia tidak lagi berjalan sendirian.

Saudara-saudari terkasih, Yesus sungguh melihat dan memahami kelelahan kita. Ia tahu apa yang kita rasakan. Ia tidak menunggu kita menyelesaikan segala persoalan terlebih dahulu, tetapi Ia berkata, “Marilah kepada-Ku.” Ini adalah undangan pribadi—panggilan untuk berhenti berjuang sendirian dan datang kepada sumber kelegaan sejati. Seperti dalam kisah tersebut, Yesus tidak meninggalkan kita saat beban hidup terasa berat; Ia justru membantu memikul dan menerangi jalan kita.

Maka, marilah kita datang kepada Yesus—melalui doa, Perayaan Ekaristi, dan dalam pekerjaan sehari-hari. Serahkanlah seluruh pergumulan kita kepada-Nya dan terimalah kuk-Nya: ajaran, teladan, dan cinta-Nya. Jadikan kehendak-Nya sebagai arah hidup kita, sebab di sanalah letak kebebasan dan kelegaan yang sejati. Mari belajar dari Yesus yang lemah lembut, penuh cinta, dan berbelas kasih. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Romualdus Dwi SaputraTingkat 2

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.