Bil 24:2-7.15-17a; Mzm 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9; Mat 21:23-27; BcO Yes. 30:18-26; (U)

Hidup dalam Kebenaran
Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengajar di Bait Allah. Saat itu para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi datang menghampiri-Nya dan bertanya tentang kuasa yang dimilikiNya. Mereka bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal ini? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?”
Sekilas, pertanyaan itu terdengar wajar. Namun sesungguhnya, mereka tidak sedang mencari kebenaran, melainkan mencoba menjatuhkan-Nya di hadapan orang banyak.
Yesus tidak terpancing untuk menjawab secara langsung. Ia justru balik bertanya, “Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Pertanyaan ini membuat mereka kebingungan. Mereka menyadari, apa pun jawaban yang mereka berikan, akan menyingkapkan isi hati mereka yang sebenarnya. Jika mereka menjawab “dari surga”, mereka harus mengakui bahwa Yohanes adalah utusan Allah dan bahwa Yesus, yang diakui Yohanes sebagai Mesias, sungguh berasal dari Allah. Namun jika mereka berkata “dari manusia”, mereka takut kepada orang banyak yang percaya bahwa Yohanes adalah nabi.
Akhirnya, mereka memilih menjawab, “Kami tidak tahu.” Sebuah jawaban yang terlihat aman, tetapi sesungguhnya menunjukkan ketidakjujuran hati mereka. Mereka tidak berani mengakui kebenaran karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruh di mata orang lain.
Melalui peristiwa ini, Yesus memperlihatkan kepada kita bahwa otoritas sejati tidak bergantung pada jabatan, gelar, atau pengakuan manusia. Kuasa yang sesungguhnya lahir dari hubungan yang benar dengan Allah. Para pemimpin agama pada masa itu tidak memahami hal ini. Mereka sibuk mempertahankan status dan rasa aman, sementara hati mereka menjauh dari sumber kebenaran itu sendiri.
Apakah kita juga sering mencari pengakuan dari manusia lebih daripada mencari kehendak Tuhan? Apakah kita berani mengakui kebenaran meski hal itu bisa membuat kita tidak disukai, bahkan dikucilkan? Kadang, seperti para imam kepala itu, kita juga bersembunyi di balik jawaban “tidak tahu” bukan karena benar-benar tidak tahu, tetapi karena takut konsekuensi dari kebenaran itu sendiri.
Yesus mengajarkan bahwa keberanian untuk hidup dalam kebenaran jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat benar di hadapan orang lain. Ia tidak memerlukan pembenaran manusia, sebab otoritas-Nya berasal langsung dari Bapa. Demikian pula kita dipanggil untuk hidup dengan keyakinan bahwa ketika kita taat kepada Allah, kita memiliki kuasa yang sejati kuasa untuk melakukan yang benar, sekalipun dunia tidak selalu memahami. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Antonius Bintang Christian-Tingkat I
Foto: Pinterest
