Caritas Indonesia Gelar Malam Belarasa Kemanusiaan: Bersyukur atas Karya dan Pelayanan Bersama Mgr. Aloysius Sudarso SCJ

“Allah tidak pernah kehabisan cara untuk menyelamatkan manusia. Dan karena kasihNya, Allah telah mengumpulkan kita bersama di tempat ini untuk bersyukur bersama bahwa kita juga mau dilibatkan untuk menunjukkan bela rasa kita kepada sesama yang menderita. Pada malam hari ini kita bersama-sama keluarga Caritas Indonesia, mensyukuri bahwa Allah yang terus-menerus membawa kita kepada suasana yang semakin sejahtera. Dan kita bersyukur bahwa kita membuka hati untuk bersama mewujudkan belarasa, kita membiarkan diri kita digunakan oleh Allah untuk mewujudkan belarasa Allah yang begitu membuat kita semakin percaya bahwa kita tidak pernah sendirian.”

Demikian diungkapkan oleh Uskup Ketapang sekaligus Wakil Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina KWI- Caritas Indonesia, Mgr. Pius Riana Prapdi dalam pengantarnya pada Misa Syukur bertajuk Malam Belarasa Kemanusiaan: Mensyukuri Karya dan Pelayanan Caritas bersama Mgr. Aloysius Sudarso SCJ yang Merayakan Ulang Tahun Ke- 80 yang dipimpin oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC di Lotus Ballroom, Jakarta International Tower, Slipi, Jakarta, Sabtu (13/12/2025) sore.

Para uskup yang turut hadir dalam perayaan Malam Belarasa Kemanusiaan | Foto: Tangkapan Layar Youtube Caritas Indonesia

Lebih lanjut, pada perayaan yang dihadiri oleh 16 uskup, di antaranya Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dan Uskup Palangkaraya sekaligus Ketua Badan Pembina Yayasan Karina KWI, Mgr. A.M Sutrisnaatmaka MSF, belasan imam, dan ratusan undangan ini, Mgr. Riana juga mengungkapkan bahwa Malam Belarasa Kemanusiaan juga menjadi momen syukur bersama Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina KWI-Caritas Indonesia, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ yang merayakan ulang tahun ke-80.

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC memimpin perayaan Malam Belarasa Kemanusiaan | Foto: Tangkapan Layar Youtube Caritas Indonesia

 “Pada malam hari ini kita juga bergembira karena semangat bela rasa itu dihidupi dan diwujudkan oleh Mgr. Aloysius Sudarso yang pada hari ini juga merayakan ulang tahun ke- 80. Hidup, pemikiran, dan karya beliau mewarnai Caritas Indonesia mewujudkan belarasa. Mari kita bersama-sama bersyukur dan mengungkapkan belarasa kita agar dunia semakin sejahtera,” jelasnya.

Mengawali homilinya, Mgr. Antonius menyampaikan pengalaman tentang pengalaman tersesat yang ia maknai sebagai cara Allah untuk menggerakkan hati agar berbelaskasih kepada sesama. “Tuhan itu memberikan kesempatan kepada kita, yang dipentingkan itu adalah kepekaan pada situasi. Kepekaan adalah perasaan atau pikiran reaktif terhadap apa yang dialami. Kepekaan ini penting dalam hidup.”

Lebih lanjut, Uskup Bandung ini menjelaskan bahwa terdapat dua jenis kepekaan,  yaitu kepekaan positif dan kepekaan negatif. Orang yang memiliki kepekaan positif, menurutnya mampu memahami apa yang terjadi di sekitarnya dengan pikiran positif yang mendengarkan dan apa yang bermanfaat bagi kesejahteraan, keselamatannya, dan bagi kemuliaan Allah.

Mgr. Antonius memberikan homilinya | Foto: Tangkapan Layar Youtube Caritas Indonesia

“Kepekaan ini menyadarkan budi dan menggerakkan hati seseorang yang tampak dalam tindakan belas kasih, belarasa, dan memuliakan Tuhan. Tidak ada peristiwa yang kebetulan bagi Tuhan, selalu ada maknanya. Ini adalah kesempatan emas, maka harus disambut dengan sukacita,” terangnya.

Ia pun menjelaskan tentang kepekaan negatif. Menurutnya, kepekaan ini tampak dalam pikiran negatif yang selalu selektif sesuai dengan keinginan dan kemauan. Orang yang berpikiran negatif tidak mendengarkan ajakan untuk berbuat baik dan tidak melihat apa yang di hadapannya sebagai kesempatan emas untuk berkembang, tetapi sebagai ancaman yang mengganggu kenyamanan. “Kepekaan ini membuat pikiran orang menjadi sinis, apatis, dan suka mengkritik, pilih-pilih, egoistik, dan terus mengeluh,” paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa karena pengaruh pikiran itu maka ada orang yang menganggap membantu bencana alam atau membantu Caritas Indonesia sebagai sesuatu yang tidak “seksi”, tidak menarik dan tidak relevan. Ia mengatakan bahwa, “Di hadapan Allah semua belarasa “seksi”, di mata Allah donasi, yang penting adalah memberi dengan segenap hati,” tegasnya.

Ada banyak saat dan kesempatan rahmat yang ditawarkan Allah melalui kehadiran orang dan peristiwa tertentu di hadapan kita. Peristiwa-peristiwa itu menyadarkan kita akan kebaikan Tuhan yang luar biasa dan kita dipanggil agar hidup menjadi berkat bagi sesama. “Bencana dan tuntutan belarasa menjadi cara Tuhan memanggil kepekaan positif kita,” imbuhnya.

Seraya mengucapkan selamat kepada Mgr. Sudarso yang berulang tahun, Mgr. Anton pun mengakhiri homilinya dengan mengutip kalimat seorang penulis dan teolog Inggris, Clive Staples Lewis. “Tuhan berbisik pada kita dalam kesenangan, berbicara dalam hati nurani ketika kita mengalami hati tenang, tetapi ia berteriak dalam kesakitan kita. Itulah megafonNya yang membangkitkan dunia yang tuli. Bencana dan penderitaan adalah megafon Allah untuk meneriakkan kepedulian hati manusia yang beku,” pungkasnya.

Usai Perayaan Ekaristi, Malam Belarasa dilanjutkan dengan ramah-tamah dan penggalangan dana melalui lelang sejumlah benda seni, yaitu lukisan The Last Judgment, lukisan Sacra Familia, lukisan Pieta, lukisan Maria Assummpta, patung Bunda Maria, dan Salib San Damiano.

Umat yang turut hadir dalam perayaan Malam Belarasa Kemanusiaan. | Foto: Tangkapan Layar Youtube Caritas Indonesia

**Rm. Titus Jatra Kelana

Leave a Reply

Your email address will not be published.