Suasana hangat dan sukacita menyelimuti Tahun Orientasi Rohani (TOR) St. Markus Pematangsiantar, Sumatera Utara pada Selasa (9/12/2025) pekan lalu. 72 frater yang berasal dari 6 keuskupan di Regio Sumatera, yaitu Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Tanjungkarang, dan Keuskupan Pangkalpinang dengan mantap mengayunkan langkah menuju Gedung Olahraga TOR St. Markus untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Penjubahan yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX. Tampak hadir mendampingi sebagai konselebran, di antaranya Romo Wirman Matondang, Romo Anselmus Ola Soni, Romo Tomas Sagino, Romo Yunus Sirilus Andrianto, dan Romo Kristinus Giawa.

Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX. | Foto: Dok. STSP
Dalam homilinya, Mgr. Vitus berbagi kesan mendalam tentang foto para frater yang ia terima sebelum keberangkatannya ke Pematangsiantar. Foto tersebut menyentuh hatinya karena melihat keberanian dan ketulusan hati para orang muda yang siap menyerahkan hidup mereka bagi Tuhan. Di tengah perayaan Tahun Yubelium Pengharapan, keberanian para frater menjadi penanda nyata bahwa Roh Kudus masih aktif bekerja dalam diri generasi muda Gereja.

Dari 72 frater yang menerima jubah, 12 di antaranya merupakan calom imam diosesan Keuskupan Agung Palembang. Jubah putih yang mereka terima merupakan pakaian rohani yang menjadi identitas sebagai calon imam. “Puji Tuhan kami sebagai kaum muda yang terpanggil boleh ikut berpartisipasi dalam penyebaran warta kasih Allah. Mohon doanya agar kami tekun dan setia dalam menjalani setiap tahap pembinaan sebagai calon imam,” ungkap Fr. Radit yang berasal dari Paroki St. Maria Pengantara Rahmat Ilahi Lahat mewakili teman-temannya.

TOR St. Markus untuk melanjutkan Perayaan Ekaristi.
| Foto: Dok. STSP
Pemberian diri mereka merupakan kabar gembira yang menunjukkan bahwa benih-benih panggilan tetap tumbuh subur di tengah umat. Dalam terang Yubileum, penerimaan ini menjadi simbol bahwa harapan Gereja tidak akan pernah padam. Ini juga menjadi jaminan masa depan bagi Gereja Sumatera, khususnya Keuskupan Agung Palembang.
Di akhir acara, tersampaikan sebuah pesan sederhana yang meneguhkan dan berharga bagi para frater menjadi bekal bagi perjalanan panjang yang telah mereka mulai. Jubah putih adalah tanda kesucian yang harus dijaga. Para frater diajak untuk berani kotor ketika melayani dan menerobos segala medan pelayanan, namun juga diingatkan untuk menjaga hati mereka tetap bersih agar kehadiran mereka sungguh-sungguh menjadi tanda harapan di tengah-tengah umat beriman.
Peristiwa penjubahan menjadi gambaran tentang harapan yang bahwa Gereja di Regio Sumatera menerima harapan baru yang bertumbuh dari tangan-tangan muda yang kini siap untuk diutus. Langkah pertama mereka ini menyalakan harapan bagi Gereja dan dunia di tengah Tahun Yubileum Pengharapan.
“Kamu telah menerima Pakaian Kesucian berwarna putih dan bersih. Ingat, walau putih jangan takut kotor untuk menerobos segala medan pelayanan; namun berani kotor tidak berarti boleh sesuka hati mengotori yang putih dan bersih itu!”
**Fr. Tinon Bayu (Kontributor Pematangsiantar)
