Paus dalam Audiensi Umum: Investasi yang Tidak Adil Dibayar dengan “Harga Berdarah Jutaan Nyawa”

Dalam katekese pada Audiensi Umum mingguan di Lapangan Santo Petrus, Paus Leo XIV menegaskan bahwa hati manusia hanya dapat menemukan istirahat sejati di dalam Allah, bukan dalam berbagai aktivitas harian yang sering kali justru tidak memberi kepuasan batin. Audiensi ini dipimpin pada hari Rabu dan disampaikan oleh Paus sebagai refleksi atas kegelisahan hidup manusia modern yang terus bergerak tanpa henti.

Paus Leo XIV menyoroti pengalaman universal manusia yang merasa selalu harus sibuk, selalu dituntut untuk bertindak dan berbuat. Dalam hampir semua bidang kehidupan, kecepatan sering dianggap sebagai syarat utama untuk mencapai tujuan ideal. Namun, Paus mengajak umat beriman untuk mengalihkan perhatian dari tuntutan duniawi semata dan memandang hidup melalui terang Kebangkitan Yesus Kristus serta dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.

Jika kita semua ambil bagian dalam kemenangan Kristus atas maut, Paus mengajukan pertanyaan mendasar: apakah kita akan menemukan istirahat sejati? Iman Kristiani, jelas Paus, menjawab bahwa kita memang akan menemukan istirahat itu. Namun, istirahat tersebut bukanlah keadaan pasif atau berhenti total, melainkan hidup dalam damai dan sukacita. Karena itu Paus bertanya lebih lanjut, apakah kita hanya perlu menunggu kepenuhannya di akhir zaman, ataukah misteri ini sudah dapat mengubah hidup kita sekarang.

Paus Leo XIV menandatangani bola beseball di atas mobil paus.
| Foto: Vatican Media

Setiap hari, manusia kerap tenggelam dalam berbagai kesibukan yang secara praktis perlu, tetapi tidak sungguh memuaskan hati. Hidup dipenuhi oleh pilihan, persoalan, tanggung jawab, dan kesulitan. Yesus sendiri mengalami kenyataan ini, namun fokus hidup-Nya tetap tertuju pada satu hal: memberikan diri-Nya secara total sampai akhir. Paus mengingatkan bahwa kesibukan yang berlebihan sering disalahartikan sebagai sumber kepenuhan hidup, padahal justru dapat berubah menjadi pusaran yang menguras ketenangan batin dan menjauhkan manusia dari hal-hal yang sungguh penting.

Ketika kelelahan dan ketidakpuasan melanda, manusia dapat merasa bahwa seluruh waktunya habis untuk mengurus banyak hal praktis yang tidak mengarah pada tujuan akhir keberadaannya. Bahkan setelah hari yang penuh dengan kegiatan, hati bisa tetap terasa kosong. Menurut Paus, hal ini terjadi karena manusia bukanlah mesin. Manusia memiliki hati—bahkan dapat dikatakan, manusia adalah hati itu sendiri.

Hati, jelas Bapa Suci, merupakan simbol seluruh kemanusiaan kita: pusat tak terlihat dari pikiran, perasaan, dan hasrat. Injil Matius mengingatkan bahwa di mana harta kita berada, di situ pula hati kita tertambat. Karena itu, Paus menegaskan pentingnya tidak menaruh harta pada hal-hal duniawi yang sementara. Harta sejati tidak boleh disimpan dalam investasi finansial yang kini semakin tak terkendali dan terkonsentrasi secara tidak adil, bahkan dibayar dengan “harga berdarah jutaan nyawa manusia” serta perusakan ciptaan Allah.

Paus Leo XIV mengajak setiap orang untuk bercermin ke dalam diri dan bertanya: di manakah sesungguhnya harta dan hati kita berada? Di tengah tumpukan komitmen dan tuntutan hidup, manusia menghadapi risiko besar akan keterpecahan batin, keputusasaan, dan hilangnya makna hidup.

Namun, jika kehidupan dipandang melalui kacamata Paskah, manusia dapat kembali menemukan makna terdalamnya. Dengan terang Kebangkitan, kita diajak memasuki inti hakikat manusia, yakni hati yang gelisah—cor inquietum—sebagaimana diungkapkan Santo Agustinus dalam Confessiones. Kegelisahan ini bukan tanpa arah, melainkan menandakan bahwa hati manusia sedang bergerak menuju tujuan akhirnya, yakni “pulang ke rumah.”

Santo Agustinus dari Hippo menulis karyanya Confessiones pada akhir abad ke-4
(Lukisan bergaya Barok tentang Santo Agustinus, berdasarkan karya asli Claudio Coello).

Harta sejati hati manusia ditemukan dalam Allah yang mengasihi, dan kasih itu nyata ketika manusia belajar mengasihi sesama. Melihat saudara dan saudari kita menuntut keberanian untuk melambat, menatap mata mereka, bahkan terkadang mengubah rencana dan arah hidup. Menurut Paus, rahasia gerak hati terletak pada keberanian untuk kembali ke sumber asal kehidupan, dan menikmati sukacita yang tidak pernah mengecewakan.

Manusia tidak dapat hidup tanpa makna, apalagi tanpa harapan. Hati manusia, tegas Paus, diciptakan untuk kepenuhan, bukan kekosongan. Melalui Inkarnasi, Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka jalan harapan itu. Jika manusia masuk ke dalam dinamika kasih yang menjadi tujuan penciptaannya, hati yang gelisah tidak akan dikecewakan. Tujuan itu pasti: hidup telah menang, dan di dalam Kristus, hidup akan terus menang—bahkan dalam setiap “kematian kecil” yang dialami manusia dalam keseharian.

**Kielce Gussie

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-12/pope-investments-today-come-at-bloody-price-of-millions-of-lives.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.