Renungan Harian Senin, 22 Desember 2025

1Sam 1:24-28; MT 1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd; Luk 1:46-56; BcO Yes. 49:14 – 50:1; (U)

Samuel dipersembahkan kepada Allah oleh ibunya.

Ketika Syukur Menjadi Persembahan

Saudara-saudari terkasih, pernahkah kita memperoleh sesuatu yang sangat kita rindukan, lalu hati kita dipenuhi sukacita? Itulah yang dialami Hana dalam bacaan hari ini. Bertahun-tahun lamanya ia berdoa memohon seorang anak. Ketika doanya dikabulkan, Hana tidak lalu menyimpan Samuel hanya untuk dirinya sendiri. Ia justru membawa anak yang masih kecil itu ke Bait Allah dan menyerahkannya kepada Tuhan. Bayangkanlah: seorang anak yang begitu dinantikan, dikembalikan kepada Allah. Bukan karena Hana tidak mencintai Samuel, melainkan justru karena cintanya yang besar. Ia menginginkan yang terbaik bagi anaknya, yakni hidup yang dipersembahkan untuk melayani Tuhan.

Ada sesuatu yang sangat indah dari sikap Hana ini. Ia menyadari bahwa Samuel adalah anugerah, bukan milik yang dapat ia kuasai sesuka hati. Semua yang baik dalam hidup kita—anak-anak, talenta, kesehatan, bahkan waktu—adalah titipan Tuhan. Hana mengembalikan Samuel bukan dengan terpaksa, melainkan dengan hati yang penuh sukacita dan syukur. Ia tidak mengeluh atau menyesal, tetapi bersyukur karena diberi kesempatan untuk mempersembahkan kembali anugerah itu kepada Allah.

Dalam Injil, kita mendengar Maria melantunkan Magnificat, sebuah nyanyian pujian yang begitu indah: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.” Maria menyadari bahwa dipilih menjadi Bunda Yesus bukan karena kehebatan atau kesempurnaannya, melainkan karena Tuhan berkenan memandang kerendahan hatinya. Dari kesadaran itulah, syukur Maria mengalir menjadi pujian yang mengagungkan Tuhan.

Kedua perempuan ini mengajarkan kepada kita bahwa syukur yang sejati bersifat aktif. Syukur tidak berhenti pada ucapan terima kasih, tetapi berbuah dalam persembahan. Hana mempersembahkan Samuel. Maria mempersembahkan seluruh hidupnya. Dari mereka kita belajar bahwa syukur sejati selalu bergerak, memberi, dan menyerahkan diri.

Sekarang, pertanyaannya bagi kita: bagaimana dengan syukur kita? Apakah kita bersyukur hanya ketika menerima sesuatu? Apakah syukur kita berhenti di bibir, atau mengalir menjadi tindakan nyata? Persembahan itu dapat bermacam-macam: waktu yang kita berikan bagi orang tua, kesabaran bagi anak-anak, pengampunan bagi mereka yang melukai kita, talenta yang kita gunakan untuk melayani, bahkan kesulitan hidup yang kita terima dengan iman.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita menjadikan syukur bukan sekadar kata-kata, melainkan cara hidup. Biarlah seluruh hidup kita menjadi nyanyian syukur yang terus berkumandang melalui persembahan diri setiap hari. Semoga Tuhan memberkati kita semua. ????

Leave a Reply

Your email address will not be published.