PW St. Timotius dan Titus, Uskup
2Tim. 1:1-8 atau Tit. 1:1-5; Mzm. 96:1-2a.2b-3.7-8a.10; Luk. 10:1-9; BcO Kej 19:1-17.23-29; (P)

Pantang Mundur
Saudara-saudari yang terkasih. Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mengutus tujuh puluh murid pergi berdua-dua untuk mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang akan Ia kunjungi. Mereka yang diutus bukanlah orang-orang yang serba siap dan sempurna, melainkan para murid yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan yang mengutus mereka. Kepada para murid, Yesus berpesan agar dalam perjalanan mereka tidak membawa bekal, uang, maupun alas kaki.
Mendengar perintah ini, mungkin kita bertanya-tanya: apakah Yesus kejam karena mengutus para murid tanpa bekal apa pun? Tentu tidak. Justru melalui perutusan ini, Yesus mengajarkan kesederhanaan dalam pelayanan. Ia menghendaki agar para murid bergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah dan pada keramahan orang-orang yang mereka temui. Kesederhanaan ini membebaskan hati mereka dari godaan duniawi, sehingga mereka dapat fokus pada misi utama: membawa damai, menyembuhkan yang sakit, dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.
Saudara-saudari terkasih, dalam menjalankan misi tersebut para murid tidak selalu mengalami penerimaan. Ada saat-saat penuh sukacita, tetapi ada pula penolakan. Yesus mengingatkan mereka agar tidak berkecil hati ketika tidak diterima. Mereka diminta untuk tetap melangkah dengan hati yang bebas, tanpa dendam, tanpa amarah, dan tanpa kehilangan damai. Di sinilah Yesus menegaskan bahwa perutusan sejati selalu menuntut kerendahan hati dan keikhlasan.
Semangat perutusan ini juga dihidupi oleh Santo Timotius dan Santo Titus yang kita peringati hari ini. Keduanya adalah murid-murid Kristus yang diutus untuk menggembalakan jemaat dalam situasi yang tidak mudah. Di tengah tantangan, perpecahan, dan godaan duniawi, mereka tetap setia kepada Tuhan yang memanggil dan mengutus mereka.
Saudara-saudari terkasih, kita pun sesungguhnya adalah orang-orang yang diutus. Mungkin kita tidak diutus untuk pergi jauh, tetapi kita diutus ke dalam keluarga, lingkungan, tempat kerja, dan masyarakat. Semoga melalui teladan Santo Timotius dan Santo Titus, kita diteguhkan untuk menjalani perutusan hidup kita dengan setia, rendah hati, dan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Robet Silalahi–Tingkat III
Foto: Pinterest
