Sam. 6:12b-15,17-19; Mzm. 24:7,8, 9,10; Mrk. 3:31-35; BcO Kej 21:1-21; (H)

Keluarga Sejati
Saudara-saudari yang terkasih. Injil hari ini menampilkan Yesus yang sedang mengajar orang banyak dan menghadirkan sebuah momen yang cukup mengejutkan. Ketika ibu dan saudara-saudara-Nya datang untuk menemui-Nya, Yesus justru berkata, “Siapakah ibu-Ku dan siapakah saudara-saudara-Ku?” Sekilas, jawaban ini terdengar keras, bahkan seolah-olah mengabaikan Maria. Namun sesungguhnya, Yesus sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam.
Dengan berkata, “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku,” Yesus tidak menolak keluarga-Nya secara jasmani. Ia justru mengajak kita memahami makna keluarga yang melampaui ikatan darah. Ikatan biologis memang penting, tetapi ketaatan kepada kehendak Allah jauh lebih utama. Yesus membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun untuk menjadi bagian dari keluarga Allah, bukan berdasarkan asal-usul, status, atau kedekatan fisik, melainkan berdasarkan kesediaan untuk mendengarkan dan melakukan firman Tuhan.
Sabda Yesus ini menantang kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah saya sungguh hidup sebagai anggota keluarga Allah? Sanggupkah saya menjadi saudara yang baik bagi sesama yang membutuhkan? Menjadi orang Katolik atau Kristen bukan sekadar tercatat secara administratif atau rajin mengikuti ibadat setiap Minggu. Yesus menegaskan bahwa kita menjadi “keluarga inti-Nya” ketika kita menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, hidup taat, setia, dan menghidupi kasih dalam keseharian.
Kiranya sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk terus mencari dan melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati. Semoga melalui hidup yang penuh kasih, pengampunan, dan pelayanan, kita sungguh menjadi anggota keluarga Allah yang menghadirkan berkat bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yusta Pawe–Tingkat 1
Foto: Pinterest
