Yer. 18:18-20; Mzm. 31:5-6,14,15-16; Mat. 20:17-28; BcO Kel. 17:1-16; (U)

Saudara-saudari terkasih, masa Prapaskah adalah masa di mana kita diajak untuk membangun sikap tobat, menyesali dosa, dan mempersiapkan hati menyambut Paskah. Kita melakukannya melalui pantang dan puasa, doa, serta memberi sedekah, sambil merenungkan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Semua itu menolong kita agar hidup semakin terarah kepada Kristus dan setia pada kehendak-Nya, meskipun kita harus menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan hidup.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kedua belas murid-Nya pergi ke Yerusalem. Kita tahu, Yerusalem adalah tempat di mana Ia akan mengalami sengsara dan wafat di kayu salib. Artinya, mengikuti Yesus bukanlah jalan yang mudah. Sebagai murid, kita pun dipanggil untuk memanggul salib kita setiap hari dengan setia dan tulus. Injil ini juga mengingatkan bahwa kita boleh memohon apa saja kepada Allah, tetapi kita harus sadar bahwa segala sesuatu adalah anugerah dari-Nya, dan Dialah yang berhak menentukan menurut kehendak-Nya.
Kedua murid Yesus meminta kedudukan terhormat dalam Kerajaan-Nya. Permintaan itu menggambarkan kerinduan manusia untuk dekat dengan Tuhan, tetapi juga menunjukkan bahwa hati manusia masih mudah tergoda oleh keinginan akan kehormatan dan kemuliaan. Kita pun bisa saja rajin berdoa, membantu sesama, atau melakukan banyak kebaikan, tetapi jika semuanya itu didorong oleh gengsi dan ego, maka kita belum sungguh mengikuti Kristus.
Karena itu, Yesus menegaskan bahwa yang terbesar adalah dia yang mau menjadi pelayan. Ia sendiri datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Maka dalam masa Prapaskah ini, marilah kita belajar melayani dengan tulus, tanpa mencari pujian. Dengan hidup yang rendah hati dan penuh kasih, kita menghadirkan wajah Allah dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Petrus Bagul-Tingkat IV
Foto: Pinterest
