HR St. Yosef, Suami St. Perawan Maria
2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; Rm. 4:13,16-18,22; Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a. BcO Ibr. 11:1-16;

Kesetiaan dalam Diam
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita merayakan sosok yang luar biasa namun sangat sunyi: Santo Yusuf. Ia bukan pribadi yang banyak bicara, bahkan dalam Kitab Suci tidak tercatat satu pun kata yang diucapkannya. Namun seluruh hidupnya menjadi khotbah yang nyata melalui tindakan. Dari Yusuf kita belajar bahwa iman yang sejati tidak diukur dari seberapa fasih kita berbicara tentang Tuhan, melainkan dari seberapa setia kita menjalankan kehendak-Nya dalam kesunyian hidup sehari-hari.
Yusuf dikenal sebagai pria yang tulus hati dan benar. Bayangkan pergulatan batinnya saat menghadapi kenyataan yang secara manusia sangat membingungkan: Maria yang mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Namun Yusuf tidak memilih bertindak menurut emosi atau harga dirinya. Ia memilih hening, memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam hatinya. Dari sikap ini kita belajar bahwa ketika hidup terasa kacau, langkah pertama yang perlu kita lakukan bukanlah protes atau panik, melainkan diam dan mendengarkan suara Tuhan.
Ketaatan Yusuf bukanlah ketaatan yang pasif, melainkan ketaatan yang penuh keberanian. Ia rela melepaskan rencana hidupnya sendiri demi menerima tanggung jawab besar merawat Yesus dan Maria. Ia juga harus menghadapi kemungkinan penilaian negatif dari masyarakat. Dalam hidup kita pun, Tuhan sering mengajak kita menempuh jalan yang tidak pernah kita rencanakan. Pada saat seperti itulah teladan Yusuf menjadi sangat relevan: berani mempercayakan masa depan kita sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.
Hal yang menarik, Yusuf tidak membutuhkan penjelasan panjang dari malaikat untuk mulai bertindak. Begitu ia memahami bahwa itu kehendak Tuhan, ia segera bangun dan melaksanakannya. Ia tidak menunda, tidak bernegosiasi. Sering kali kita justru sebaliknya: kita terlalu banyak bertanya, mencari alasan, atau menunggu waktu yang “sempurna” untuk melakukan kebaikan. Yusuf mengingatkan kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan sering kali terwujud dalam tindakan sederhana yang dilakukan segera dan dengan tulus.
Saudara-saudari terkasih, mari kita meneladan semangat Santo Yusuf: percaya dalam diam dan setia dalam tindakan. Kita tidak perlu menjadi orang besar atau pusat perhatian untuk menjadi berarti di mata Tuhan. Melalui kesederhanaan, tanggung jawab, dan ketulusan kita dalam menjalankan tugas sehari-hari, Tuhan dapat menghadirkan karya keselamatan-Nya bagi dunia. Semoga kita pun memiliki keberanian seperti Yusuf untuk berkata “ya” pada rencana Tuhan, apa pun bentuknya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
.
**Fr. Ritma Agustio-Tingkat 1
Foto: Pinterest
