Keb. 2:1a,12-22; Mzm. 34:17-18,19-20,21,23; Yoh. 7:1-2,10,25-30; BcO Bil. 9:15-10:10,33-36; (U)

Apakah Sungguh Mengenal Yesus?
Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita melihat bagaimana orang banyak merasa telah mengenal Yesus Kristus. Mereka tahu asal-usul dan keluarga-Nya, sehingga mereka merasa cukup memahami siapa Dia. Namun justru karena merasa tahu itulah mereka gagal melihat bahwa Yesus adalah Utusan Allah. Mereka menilai hanya dari apa yang tampak di luar. Sementara itu, dalam Kitab Kebijaksanaan digambarkan bahwa orang benar sering dibenci karena hidupnya yang lurus. Kehadirannya menjadi seperti cermin yang menyingkapkan ketidakbenaran orang lain, sehingga ia dianggap mengganggu dan bahkan ingin disingkirkan.
Dalam sejarah filsafat, Socrates pernah mengatakan bahwa hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani. Ia dihukum mati karena berani mempertanyakan cara berpikir masyarakat pada zamannya. Banyak orang merasa terganggu oleh pertanyaannya yang jujur. Kebenaran memang sering tidak nyaman, karena ia memaksa manusia melihat dirinya sendiri. Hal seperti ini kadang juga terjadi dalam kehidupan Gereja. Misalnya, ketika ada petugas liturgi yang mengingatkan pentingnya ketertiban dan kesakralan dalam perayaan Ekaristi. Ia mungkin dianggap terlalu kaku atau perfeksionis, padahal yang ia perjuangkan adalah sikap hormat kepada Tuhan.
Pengalaman itu sebenarnya mencerminkan apa yang dialami Yesus sendiri. Ia datang membawa kebenaran dari Bapa, tetapi justru ditolak oleh banyak orang. Mereka merasa terusik oleh sabda-Nya yang menantang cara hidup yang tidak benar. Namun Yesus tidak pernah mundur dari misi-Nya. Ia tetap setia pada tugas yang dipercayakan oleh Bapa. Dari sini kita belajar bahwa hidup dalam kebenaran sering kali tidak mudah dan tidak selalu mendapat dukungan dari orang lain.
Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita sungguh mengenal Yesus? Mengenal Yesus bukan sekadar mengetahui kisah-Nya, tetapi berani meneladan hidup-Nya. Artinya kita memilih hidup jujur, setia, dan penuh kasih, meskipun pilihan itu kadang membuat kita berbeda dari arus kebiasaan di sekitar kita.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita melangkah perlahan namun pasti meninggalkan sikap lama yang tidak membangun. Kita dipanggil menjadi Gereja yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih setia kepada Dia yang datang dari Bapa. Jika kita pernah menolak suara yang jujur karena merasa terganggu, kiranya Tuhan melembutkan hati kita. Jangan takut berubah dan jangan takut dibentuk oleh kebenaran. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa R.G-Tingkat 1
Foto: Pinterest
