Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42. BcO Bil. 22:1-8a,20-35.

Hidup dari Sabda
Saudara-saudari terkasih, pernahkah kita merasa sangat haus dan lemas, lalu seketika segar kembali setelah meminum air dingin? Begitulah perumpamaan jiwa kita dengan Firman Tuhan. Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan jaminan yang luar biasa: “Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut.” Kalimat ini bukan sekadar janji kosong, melainkan makanan rohani yang memberi tenaga bagi jiwa kita. Tanpa menghidupi firman-Nya setiap hari, batin kita akan perlahan-lahan layu, merasa hampa, dan mudah goyah saat diterpa masalah hidup yang berat.
Ketegangan antara Yesus dan orang-orang Yahudi muncul karena mereka terlalu bangga dengan status sebagai keturunan Abraham. Mereka sulit menerima kenyataan bahwa Yesus jauh lebih besar dari bapa bangsa mereka. Kadang, kita pun sering terjebak dalam rasa bangga yang serupa; merasa sudah menjadi “Katolik sejak lahir” atau rajin ke gereja, namun hati kita tertutup bagi pembaruan yang Yesus tawarkan. Padahal, Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Sang Firman yang kekal, yang sudah ada sebelum segalanya bermula, dan Dia ingin memberikan hidup-Nya kepada kita yang mau setia mengikuti-Nya.
Refleksi nyata bagi kita saat ini adalah tentang rasa syukur. Hidup kekal sebenarnya sudah dimulai sekarang, yaitu ketika kita mampu mensyukuri berkat-berkat yang tampak “biasa” namun luar biasa: kesehatan, pekerjaan, pasangan hidup, hingga tawa anak-anak di rumah. Sering kali kita justru lebih mudah mengeluh saat mendengar khotbah yang panjang atau merasa ayat Kitab Suci terlalu sering diulang. Contoh sederhananya, apakah saat di gereja kita benar-benar mendengarkan Tuhan berbicara, atau kita justru sibuk mengecek ponsel dan merasa ibadah itu membosankan?
Iman yang sejati seharusnya berbuah dalam kesetiaan, bukan sekadar teori. Kita sering menyebut diri orang beriman, tetapi apakah iman itu nyata saat kita menghadapi konflik di kantor atau kesulitan ekonomi? Yesus telah memberikan segalanya, bahkan nyawa-Nya sendiri. Jika kita tidak pernah bersyukur dan tidak mau menghidupi nilai-nilai kasih dalam keseharian, maka pengorbanan Yesus seolah menjadi sia-sia bagi diri kita sendiri. Menuruti firman berarti berani memilih untuk jujur saat orang lain curang, dan berani mengampuni saat hati kita disakiti.
Saudara-saudari terkasih, mari kita datang ke hadapan Tuhan dengan hati yang tulus dan terbuka. Jangan biarkan rutinitas membuat kepekaan kita tumpul. Setiap kali kita meluangkan waktu sejenak untuk membaca satu ayat Kitab Suci atau berdoa bersama keluarga sebelum tidur, kita sebenarnya sedang menerima kasih Allah yang menghidupkan. Semoga hari ini kita mau mendengarkan suara-Nya dan membiarkan Yesus menjadi kekuatan utama dalam setiap langkah kita di tengah keluarga, pekerjaan, dan masyarakat. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yusta Pawe-Tingkat 1
Foto: Pinterest
