Renungan Harian Kamis, 26 Februari 2026

Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59. BcO Bil 20:1-13; 21:4-9.

Hidup yang Berbuah

Saudara-saudari terkasih, mengikuti Yesus bukan sekadar menjalankan kewajiban agama, melainkan menjaga “napas” bagi jiwa kita. Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang menuruti firman-Nya tidak akan mengalami maut. Sama seperti tubuh kita yang akan lemas dan jatuh sakit tanpa asupan nutrisi, jiwa kita pun akan kehilangan arah tanpa bimbingan firman Tuhan. Sabda-Nya adalah makanan rohani yang memberi kita kekuatan untuk tetap tegak berdiri menghadapi berbagai tantangan hidup yang melelahkan.

Ketegangan antara Yesus dan orang-orang Yahudi terjadi karena mereka terlalu terpaku pada logika manusia dan kebanggaan masa lalu atas Abraham. Padahal, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai “Aku ada” yang melampaui waktu. Sering kali kita pun seperti mereka; kita sulit menerima kebenaran Tuhan karena merasa sudah tahu segalanya atau merasa cara hidup kita sudah paling benar. Padahal, mengakui Yesus berarti berani meruntuhkan ego dan mengakui bahwa ada kuasa Tuhan yang jauh lebih besar dari rencana-rencana hebat kita.

Refleksi nyata bagi kita saat ini adalah tentang bagaimana kita memandang berkat harian. Hidup kekal itu sudah dimulai sekarang melalui rasa syukur atas hal-hal sederhana: rumah tempat berteduh, pekerjaan yang menghidupi, hingga kehadiran pasangan dan anak-anak. Sayangnya, kita sering lebih cepat mengeluh daripada berterima kasih. Contohnya, saat di gereja, kita mungkin merasa khotbah membosankan atau ayat yang dibaca itu-itu saja. Padahal, bisa jadi di balik “pengulangan” itu, Tuhan sedang mengetuk hati kita yang keras agar mau kembali setia pada jalan-Nya.

Iman yang sejati tidak hanya berhenti di bibir, tetapi harus berbuah dalam kesetiaan. Sangat mudah mengaku beriman saat hidup sedang lancar, namun kesetiaan diuji saat situasi sulit atau saat firman Tuhan meminta kita untuk mengampuni orang yang menyakiti kita. Jika kita mengaku pengikut Kristus tetapi tetap memelihara dendam atau ketidakjujuran, maka pengorbanan Yesus di kayu salib seolah menjadi sia-sia bagi diri kita sendiri. Menuruti firman berarti membiarkan nilai-nilai Injil menjadi standar perilaku kita, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita datang ke hadapan Tuhan dengan hati yang lebih terbuka. Mari kita bawa segala lelah dan syukur kita ke dalam doa dan perayaan Ekaristi, bukan sebagai rutinitas, melainkan sebagai perjumpaan pribadi dengan Sang Hidup. Ketika kita berani meluangkan waktu sejenak untuk membaca Kitab Suci di tengah kesibukan, kita sebenarnya sedang mengizinkan kasih Allah memulihkan batin kita. Semoga Yesus benar-benar menjadi kekuatan utama dalam keluarga dan karya kita hari ini, membawa kita pada hidup yang penuh makna dan kekal. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Robet Silalahi-Tingkat III

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.