Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38; BcO Yer. 8:13-9:8.

Antara Cinta dan Pengkhianatan
Saudara-saudari terkasih, luka terdalam terkadang bukan datang dari musuh, melainkan dari orang yang kita cintai. Dalam Injil hari ini, kita diajak masuk ke suasana Perjamuan Terakhir. Malam yang seharusnya penuh kehangatan persaudaraan berubah menjadi malam yang sunyi dan tegang. Yesus berkata dengan hati yang terharu: “Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Bayangkan suasana itu. Para murid saling memandang. Tidak ada yang merasa diri pengkhianat. Bahkan Yudas pun duduk di sana, menerima roti dari tangan Yesus. Yesus tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya. Namun Ia tetap membasuh kakinya. Ia tetap memberinya roti. Ia tetap mengasihinya.
Di sinilah kita melihat kedalaman hati Yesus. Ia tidak berhenti mengasihi meskipun tahu akan dikhianati. Namun kisah belum selesai. Petrus yang penuh semangat berkata: “Tuhan, aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu.”. Tetapi Yesus menjawab: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Yudas mengkhianati dengan perhitungan. Petrus menyangkal karena ketakutan. Dua-duanya jatuh dan gagal. Yang membedakan adalah: Yudas menutup diri dari belas kasih, sedangkan Petrus menangis dan kembali.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita bertanya dalam hati: Apakah aku pernah menjadi seperti Yudas, dekat dengan Yesus, tetapi hatiku jauh? atau apakah aku pernah menjadi seperti Petrus, penuh semangat dalam kata-kata, tetapi lemah dalam kenyataan? Sering kali kita berkata, “Tuhan, aku setia.” Namun dalam keputusan sehari-hari, kita lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran. Kita lebih takut pada penilaian orang daripada kehilangan Tuhan.
Saudara-saudari terkasih, Yesus sudah tahu kelemahan kita dan Ia tetap mengasihi kita. Sebagai umat beriman, kita diajak untuk tidak hanya berkata, “Aku mengasihi Tuhan,” tetapi berani setia dalam saat sulit. Kesetiaan bukan dibuktikan ketika segalanya mudah, tetapi ketika hati diuji. Maka jika hari ini kita merasa gagal, lemah, atau pernah menyangkal Tuhan lewat sikap dan pilihan hidup, jangan tinggal dalam malam. Datanglah kembali. Menangislah seperti Petrus. Biarkan kasih Yesus memulihkan kita. Karena pada akhirnya, bukan dosa kita yang menentukan hidup kita, tetapi apakah kita mau kembali kepada-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Prayoga-Tingkat V
Foto: Pinterest
