Renungan Harian Rabu, 1 April 2026

Yes. 50:4-9a; Mzm. 69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat. 26:14-25.

Menjaga Hati

Saudara-saudari terkasih, sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi murid yang setia—murid yang mau belajar dan siap diutus. Dalam kedua bacaan hari ini, kita berjumpa dengan dua pribadi: Yesaya dan Yudas Iskariot. Keduanya sama-sama dipilih, namun menampilkan sikap hidup yang berbeda, terutama dalam cara menggunakan kata-kata. Yesaya memakai lidahnya untuk menguatkan yang lemah dan memberi harapan bagi yang berbeban berat, sedangkan Yudas Iskariot justru menggunakan lidahnya sebagai sarana untuk mengkhianati Yesus di hadapan para imam kepala.

Saudara-saudari terkasih, pernahkah kita membayangkan apa yang ada dalam hati Yudas ketika ia melangkah menemui para imam kepala? Demi tiga puluh keping perak, ia rela menukar persahabatan dan kasih yang telah ia terima dari Yesus selama bertahun-tahun. Kisah ini mengingatkan kita bahwa pengkhianatan sering kali tidak dimulai dari hal besar, melainkan dari celah kecil dalam hati—ketika kita mulai lebih mengutamakan keuntungan pribadi daripada kesetiaan kepada Tuhan. Yudas menjadi cermin bagi kita: betapa mudahnya nilai iman memudar ketika kita mulai menghitung untung dan rugi dalam mengikuti Kristus.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun kerap jatuh dalam hal yang serupa, terutama melalui kata-kata kita. Lidah yang dianugerahkan Tuhan seharusnya dipakai untuk memberkati, menguatkan, dan membangun, seturut teladan Sang Guru—bukan untuk mengutuk, menyakiti, atau menghakimi. Namun tanpa disadari, kita sering lebih mudah mengucapkan hal-hal yang melukai sesama, seolah-olah diri kita sendiri sudah benar dan tanpa cela.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita kembali “pulang” ke dalam pelukan Tuhan. Jangan sampai kita menjadi “Yudas modern” yang menjual kejujuran, integritas, dan kasih demi kesenangan sesaat. Sebaliknya, marilah kita menjadi murid yang berani jujur di hadapan Tuhan atas segala kerapuhan kita. Semoga dalam masa Prapaskah ini, hati kita tidak lagi tergoda oleh “tiga puluh perak” duniawi, melainkan semakin terpikat pada kasih setia Yesus yang tak ternilai. Mari kita memperbarui komitmen untuk tetap setia kepada-Nya, apa pun situasi yang kita hadapi. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Heribertus Dino-Tingkat I\

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.