Renungan Harian Sabtu, 4 April 2026

Sabtu Suci – Vigili Paskah
Kej. 1:1–2:2; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,13-14,24,35c; Kej. 22:1-18; Mzm. 16:5,8,9-10,11; Kel. 14:15–15:1; Kel. 15:1-2,3-4,5-6,17-18; Yes. 54:5-14; Mzm. 30:2,4,5-6,11,12a,13b; Yes. 55:1-11; Yes. 12:2-3,4bcd,5-6; Bar. 3:9–4:4; Mzm. 19:8,9,10,11; Yeh. 36:16-28; Mzm. 42:3,5bcd; 43:3,4; Rm. 6:3-11; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Mat. 28:1-10.

Hati yang Setia

Saudara-saudari terkasih, pada malam yang kudus ini kita merayakan Vigili Paskah dengan penuh sukacita. Yesus Kristus, Putra Allah, telah bangkit dan mendahului kita. Sabda Tuhan yang kita dengarkan malam ini mengajak kita menengok kembali karya keselamatan Allah sejak awal penciptaan hingga puncaknya dalam kebangkitan Kristus. Kita diingatkan akan iman Abraham yang dengan tulus rela mempersembahkan putra tunggalnya kepada Allah. Dari teladan ini, kita diajak untuk semakin percaya dan berserah kepada kehendak Allah, baik dalam suka maupun dalam duka.

Injil malam ini mewartakan peristiwa yang menjadi pusat iman kita, yakni kebangkitan Tuhan. Pagi-pagi benar, Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi ke kubur Yesus dengan hati yang diliputi kesedihan, karena mereka mengira semuanya telah berakhir. Namun justru di tempat yang mereka anggap sebagai akhir, mereka menerima kabar yang paling membahagiakan: “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit.” Kubur yang kosong menjadi tanda bahwa kuasa kematian tidak mampu mengalahkan Tuhan. Kebangkitan Kristus menegaskan bahwa penderitaan, kesedihan, bahkan kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebab kasih Allah jauh lebih kuat daripada segala kegelapan.

Saudara-saudari terkasih, menarik bahwa kabar kebangkitan pertama kali dipercayakan kepada dua perempuan sederhana. Mereka bukan tokoh besar, tetapi memiliki hati yang setia. Di tengah kesedihan, mereka tetap datang kepada Tuhan, dan kesetiaan itulah yang membuat mereka menjadi saksi pertama kebangkitan. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan berkarya melalui hati yang sederhana dan setia. Bahkan ketika mereka bergegas untuk mewartakan kabar itu, Yesus sendiri menjumpai mereka dan menyapa, “Salam bagimu.” Perjumpaan ini menunjukkan bahwa kebangkitan bukan sekadar peristiwa, melainkan pengalaman nyata bersama Tuhan yang hidup.

Perayaan malam ini mengajak kita memiliki dua sikap. Pertama, jangan takut menghadapi kehidupan. Pesan malaikat, “Jangan takut,” menjadi kekuatan bagi kita di tengah berbagai kesulitan hidup—baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun pergumulan pribadi. Kebangkitan Kristus menegaskan bahwa Tuhan selalu berjalan bersama kita. Kedua, kita dipanggil untuk menjadi pewarta kabar sukacita. Seperti kedua perempuan itu, kita tidak menyimpan kabar baik hanya untuk diri sendiri, tetapi membagikannya melalui kata-kata, tindakan, dan hidup yang penuh kasih. Semoga perayaan Vigili Paskah ini meneguhkan iman kita, memperbarui harapan kita, dan menggerakkan kita untuk semakin setia mengikuti Kristus yang telah bangkit. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Petrus Bagul-Tingkat IV

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.