Hari Raya Paskah Kebangkitan Tuhan
Kis. 10:34a,37-43; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Kol. 3:1-4 atau 1Kor. 5:6b-8; Yoh. 20:1-9.

Hati yang Hidup
Saudara-saudari terkasih, selamat Hari Raya Paskah! Dalam Injil hari ini, Maria Magdalena datang ke makam ketika hari masih gelap. Ia melihat batu sudah terguling, lalu berlari memberi tahu para murid. Petrus dan murid yang dikasihi Yesus pun berlari ke makam. Mereka belum langsung berjumpa dengan Yesus, tetapi tanda-tanda yang mereka lihat mulai menumbuhkan iman dalam hati mereka. Di sinilah keindahan Paskah: kebangkitan Tuhan tidak hadir dengan gemuruh, melainkan melalui tanda sederhana—kubur yang kosong—yang perlahan menuntun orang untuk percaya bahwa maut tidak berkuasa lagi. Demikian pula dalam hidup kita, Tuhan sering bekerja dengan cara yang tenang, namun pasti dan nyata.
Sering kali kita menginginkan Tuhan bekerja secara cepat dan spektakuler. Kita berharap sekali berkata “Alleluya,” semua persoalan langsung selesai—utang lunas, kesehatan pulih, keluarga rukun, bahkan kemacetan hidup seakan lenyap seketika. Namun Injil Paskah hari ini mengajarkan bahwa karya Tuhan justru sering dimulai dari hal-hal sederhana. Kubur kosong menjadi tanda bahwa ketika kita merasa hidup sudah tertutup, Tuhan justru sedang membuka jalan baru. Batu yang besar dapat terguling, dan apa yang kita anggap sebagai akhir, di tangan Tuhan bisa menjadi awal yang baru.
Kubur kosong itu juga menjadi cermin bagi kita. Bisa jadi kubur Yesus sudah kosong, tetapi hati kita masih penuh—penuh kekecewaan, gengsi, iri hati, kelelahan, luka lama, bahkan dosa yang kita simpan rapat. Hati kita kadang seperti gudang yang penuh sesak, sehingga yang penting justru sulit ditemukan. Paskah mengajak kita untuk membereskan hati: bukan hanya membersihkan rumah atau merapikan hal-hal lahiriah, tetapi juga membuka ruang batin agar Kristus yang bangkit sungguh hadir dan tinggal dalam diri kita.
Saudara-saudari terkasih, Paskah tidak boleh berhenti pada ucapan “Alleluya”, telur Paskah, atau kebersamaan sesudah misa. Sukacita Paskah harus nyata dalam kehidupan sehari-hari—di rumah, di lingkungan, di tempat kerja, dan dalam komunitas. Orang yang sungguh percaya kepada Kristus yang bangkit akan menunjukkan hidup yang baru: lebih sabar, lebih mudah mengampuni, tidak cepat marah, ringan tangan menolong, dan membawa damai bagi sesama. Sebab Paskah tanpa perubahan hidup akan terasa hampa, seperti masakan tanpa cita rasa.
Saudara-saudari, kabar Paskah yang paling indah bukan hanya bahwa kubur itu kosong, tetapi bahwa Yesus sungguh hidup dan terus berkarya dalam hidup kita. Semoga Paskah ini menjadikan kita pribadi yang semakin hidup, penuh harapan, dan berani membawa terang Kristus di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat. Selamat Paskah. Alleluya! Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Frendy Pascalis-Tingkat VI
Foto: Pinterest
