Kitab Suci: Komunikasi Tak Langsung, Formator Harus Mampu Menyampaikan Maksud Penulis kepada Formandi

Romo Paulus Halek Bere SSCC memberikan materi. | Foto : Komsos KAPal

Hari ketiga workshop para formator yang berlangsung pada Sabtu (9/5) di RR Giri Nugraha kembali diisi dengan pendalaman tema How To Be a Good Enough Formator. Pada sesi kali ini, pembahasan difokuskan pada refleksi biblis mengenai panggilan formator serta bedah kasus dalam kehidupan komunitas formasi. Materi disampaikan oleh Romo Paulus Halek Bere SSCC, yang akrab disapa Romo Polce.

Kitab Suci sebagai Komunikasi Tidak Langsung

“Kitab Suci merupakan bentuk komunikasi tidak langsung. Oleh sebab itu formator harus mampu menyampaikan maksud penulis kepada formandi”. Demikian ditegaskan oleh Romo Polce.

Romo Polce menegaskan hal tersebut karena para penulis Kitab Suci hidup dalam konteks zaman yang berbeda dengan pembaca masa kini. Oleh sebab itu, pesan-pesan yang terkandung di dalamnya perlu dipahami melalui bahasa, budaya, dan gaya sastra yang digunakan pada masa penulisannya.

Romo Polce memberi pertanyaan kepada salah satu peserta. | Foto : Komsos KAPal

Ia juga menegaskan bahwa tugas seorang formator bukan sekadar mengutip ayat Kitab Suci, tetapi membantu formandi memahami maksud penulis Kitab Suci dan menghubungkannya dengan situasi hidup masa sekarang. Menurutnya, perkembangan dunia dan bahasa yang terus berubah menuntut formator memiliki kemampuan membaca dan menafsirkan Kitab Suci secara bijaksana.

Metode Membaca dan Menghayati Kitab Suci

Romo Polce menawarkan tiga langkah utama dalam mendekati Kitab Suci, yakni membaca, merenungkan, dan menghayati. Tahap membaca dilakukan dengan memperhatikan teks secara utuh, termasuk tanda baca, intonasi, dan suasana pembacaan agar Sabda Tuhan sungguh didengar dan dipahami. Tahap berikutnya adalah merenungkan, yaitu mendengarkan isi Kitab Suci, meresapkannya dalam hati, serta menemukan pesan yang menyentuh pengalaman hidup pribadi.

Diskusi kasus yang diberikan. | Foto : Komsos KAPal

Sementara itu, tahap menghayati berarti membiarkan teks Kitab Suci berbicara dalam kehidupan sehari-hari hingga menggerakkan seseorang untuk bertindak, bersaksi, dan bertumbuh dalam iman serta relasi dengan sesama.

Analisa Teks untuk Memahami Sabda Tuhan

Selain metode membaca Kitab Suci, peserta workshop juga diajak memahami metode analisa teks biblis. Romo Polce menjelaskan tiga langkah penting dalam analisa tersebut, yaitu membaca teks secara menyeluruh, menemukan dinamika dalam teks, dan memahami pesan yang disampaikan, baik secara implisit maupun eksplisit.

Ia menambahkan bahwa setiap teks Kitab Suci memiliki bentuk sastra yang berbeda-beda sehingga tidak dapat diperlakukan dengan cara penafsiran yang sama. Karena itu, seorang formator perlu memahami tema, tokoh, simbol, dan konteks teks agar pesan Sabda Tuhan dapat disampaikan secara tepat kepada formandi.

Formator sebagai Pendamping Panggilan

Dalam refleksi biblis mengenai panggilan, Romo Polce mengangkat beberapa kisah Kitab Suci, seperti panggilan Abraham, panggilan para murid, hingga kehidupan komunitas perdana. Menurutnya, panggilan selalu berkaitan dengan keberanian untuk berjalan dalam iman dan kesiapan meninggalkan zona nyaman demi mengikuti kehendak Allah.

Penyampaian hasil diskusi. | Foto : Komsos KAPal

Ia juga menekankan bahwa seorang formator dipanggil untuk berjalan bersama formandi dalam proses mendengarkan, mengenal, meneguhkan, dan menghidupi panggilan Allah. Relasi Yesus dengan para murid menjadi model utama dalam pendampingan, yakni relasi yang dibangun atas dasar kepercayaan, cinta kasih, doa, dan keteladanan hidup.

Bedah Kasus Kehidupan Formasi

Pada sesi diskusi, peserta diajak merefleksikan berbagai situasi konkret dalam kehidupan formasi. Beberapa kasus yang dibahas antara lain minimnya minat formandi terhadap Kitab Suci, relasi antaranggota komunitas, karakter formandi seperti Petrus yang emosional namun berani, hingga pribadi seperti Yohanes yang rajin tetapi kurang tegas dalam mengambil keputusan.

Sr. M. Benediktin FSGM memaparkan hasil diskusi kelompoknya. | Foto : Komsos KAPal

Selain itu, dibahas pula tantangan mendampingi formandi yang terlalu idealis seperti gambaran karakter Yudas. Melalui bedah kasus tersebut, para peserta diajak menemukan model pendampingan yang lebih manusiawi, reflektif, dan berakar pada Sabda Tuhan.

Meneladani Yesus Sang Formator Agung

Sebagai penutup, Romo Polce mengajak para peserta meneladani Yesus sebagai tokoh utama dalam panggilan dan pendampingan. Tiga sikap utama yang ditekankan adalah rendah hati, cinta kasih, dan hidup doa.

“Sebagai formator, marilah kita menjadikan pola hidup jemaat perdana sebagai inspirasi pembinaan di rumah-rumah bina kita, yakni hidup dalam kebersamaan, tekun berkumpul, serta senantiasa merenungkan Kitab Suci sebagai dasar pertumbuhan iman dan panggilan”, pukas Romo Polce.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.