Hari Minggu Biasa XIII
2Raj 4:8-11.14-16a; Mzm. 89:2-3; Rom. 6:3-4, 8-111; Mat: 10:37-42; BcO 1Kor. 3:1-23.
Menjadikan Kristus Pusat Kehidupan

Dalam bacaan pertama,Kisah perempuan Sunem dalam 2 Raja-Raja menunjukkan contoh nyata iman yang diwujudkan dalam keramahan dan perhatian kepada nabi Elisa. Ia memberi tempat bagi utusan Tuhan tanpa mengharapkan balasan, kemudian Tuhan memberkati hidupnya denagn memberikan dia seorang anak. Dari sini kita belajar bahwa setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia di hadapan Allah, sebab Allah adalah kasih (Deus Caritas Est). Bahkan segelas air yang diberikan dengan tulus, seperti yang dikatakan Yesus, memiliki nilai besar di mata Tuhan.
Kemudian dalam bacaan kedua, dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui baptisan kita telah mati bersama Kristus dan dipanggil untuk hidup baru. Artinya, hidup orang beriman seharusnya tidak lagi dikuasai oleh egoisme, kebencian, atau dosa, melainkan oleh kasih dan pengabdian kepada Tuhan.
Pengajaran Paulus menegaskan apa yang disabdakan Yesus dalam Injil hari ini, bahwa siapa yang mengasihi ayah atau ibu lebih daripada-Nya, ia tidak layak bagi-Nya. Sabda ini bukan berarti kita harus meninggalkan keluarga, tetapi mengingatkan bahwa Tuhan perlu menjadi pusat hidup, sebab Yesus telah dahulu mengasihi kita karena Dia telah rela mati demi menebus dosa kita. Ketika Tuhan ditempatkan di atas segalanya, maka kasih kita kepada sesama justru menjadi lebih tulus dan penuh pengorbanan.
Saudara saudari terkasih, melalui bacaan-bacaan hari ini kita diajak untuk melihat bagaimana kasih kepada Tuhan harus menjadi yang utama dalam hidup kita. Mari kita sejenak bertanya diri: Apakah Kristus sungguh menjadi pusat hidupku? Semoga kita mampu mengikuti Tuhan dengan setia melalui tindakan kasih yang sederhana, pengorbanan yang tulus, dan hati yang selalu terbuka bagi sesama dan juga bagi Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.Fr. Yusta Pawe–Tingkat I
