Renungan Harian Senin, 29 Juni 2026

Hari Raya St. Petrus dan Paulus, Rasul
Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19; BcO Kis. 3:1-26 atau Kis. 4:1-31.

Batu Karang dan Jalanan

Saudara-saudari terkasih, mungkin kita pernah berpikir bahwa Tuhan hanya memakai orang-orang hebat untuk menjadi utusanNya, yaitu orang yang kuat imannya, yang tidak pernah jatuh, yang hidupnya sudah rapi dan sempurna. Tetapi ketika melihat Santo Petrus dan Santo Paulus, kita justru menemukan hal yang berbeda. Petrus pernah takut, tenggelam dalam keraguannya sendiri, bahkan pernah menyangkal Yesus. Paulus pun tidak lebih baik. Ia pernah mengejar dan menganiaya orang-orang Kristen. Namun anehnya, Tuhan tidak menjauh dari mereka. Tuhan justru memanggil mereka lebih dekat.

Mungkin kita pernah mendengan nama Simon yang diubah menjadi Petrus atau nama Saulus diubah menjadi Paulus. Dalam Kitab Suci, perubahan nama selalu berarti perubahan hidup atau menerima identitas yang baru. Pun hal ini selaras dengan beberapa tradisi adat yang mungkin pernah kita dengar, dengan mengganti nama seorang anak yang sakit agar tidak terus-terusan sakit dan akhirnya menerima kesembuhan atau perubahan dalam hidupnya. Begitu pula yang dialami Santo Petrus dan Paulus, dimana Yesus ingin mereka menerima kehidupan atau Identitas yang baru pula. Seolah-olah Tuhan Yesus ingin berkata, “Aku tahu siapa dirimu sekarang, tetapi Aku juga melihat akan menjadi apa kau kelak bersama-Ku.”

Petrus dijadikan batu karang bukan karena ia sudah kuat, tetapi karena Tuhan perlahan menguatkannya. Paulus dijadikan pewarta Injil di “jalanan dunia”, bukan karena ia selalu benar, tetapi karena Tuhan mengubah arah langkahnya. Dan mungkin hidup kita pun sebenarnya tidak jauh berbeda. Ada bagian-bagian dalam diri kita yang masih rapuh. Ada ketakutan yang masih disembunyikan. Ada masa lalu yang kadang membuat kita merasa tidak layak. Tetapi pada Hari Raya ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak menunggu kita sempurna untuk dipanggil. Ia hanya meminta pikiran yang terbuka dan hati yang mau dibentuk.

Saudara-saudari terkasih, kadang Tuhan mengubah hidup bukan lewat hal-hal besar, tetapi lewat luka, kegagalan, perjalanan panjang, bahkan lewat air mata yang tidak pernah diceritakan kepada siapa-siapa. Perlahan-lahan, tanpa kita sadari, Tuhan sedang mengubah arah hidup kita. Mungkin itu sebabnya Gereja berdiri bukan di atas manusia-manusia sempurna, melainkan di atas orang-orang yang pernah jatuh tetapi tetap mau kembali kepada Tuhan. Dan siapa tahu, di tengah proses hidup yang sedang kita jalani hari ini, Tuhan pun sedang mengubah kita sedikit demi sedikit: dari Simon menjadi Petrus, dari Saulus menjadi Paulus. Dari aku yang lama menjadi aku yang baru, demi kehidupan yang layak untuk dipersembahkan kepada Tuhan. semoga Tuhan sennatiasa memberkati kita semua.

Fr. Tinon BayuTingkat V

Leave a Reply

Your email address will not be published.