
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).
Sabda Yesus tersebut menjadi landasan refleksi yang mengawali sesi pagi hari ketiga KAPal Youth Day (KYD) 2026 di GSG Tegal Arum, Kamis (9/7/2026). Melalui ayat ini, ratusan Orang Muda Katolik (OMK) diajak menyadari bahwa kehidupan sebagai murid Kristus tidak pernah lepas dari tantangan. Namun, setiap murid dipanggil untuk tetap teguh karena Kristus telah lebih dahulu mengalahkan dosa, kejahatan, dan maut.
Materi dibawakan oleh tim Domus Cordis, Budi Satrio Wibowo, Fenny Yuni Andari, dan Brigita Gracea Maresta. Domus Cordis merupakan komunitas pembinaan orang muda Katolik yang berdiri sejak tahun 2007 di Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh Santo Yohanes Paulus II, komunitas ini berfokus pada pembinaan iman dan pewartaan bagi kaum muda. Kini Domus Cordis telah berkembang di Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, hingga Sydney dengan visi membentuk generasi muda yang berakar dalam iman, bertumbuh sebagai murid Kristus, dan siap diutus menjadi pewarta Injil.

Mengawali pemaparannya, Budi Satrio Wibowo menegaskan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti memiliki keberanian menghadapi tantangan hidup, bukan menghindarinya.
“Orang muda tidak dipanggil lari dari tantangan, tetapi memiliki keberanian sebagai murid Kristus. Kita menghadapi dunia dengan keyakinan bahwa Kristus telah mengalahkan dosa, kejahatan, dan maut,” tegasnya.
Ia kemudian mengajak peserta mengenali berbagai tantangan yang dihadapi orang muda saat ini, mulai dari tekanan media sosial, budaya instan, hoaks, hingga relativisme moral yang membuat banyak orang kehilangan arah. Di tengah situasi tersebut, OMK dipanggil untuk tetap teguh menunjukkan identitasnya sebagai murid Kristus melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau dunia mengajak kita mengikuti arus, justru sebagai murid Kristus kita dipanggil berani menunjukkan identitas iman melalui sikap dan tindakan,” ujarnya.
Menurut Budi, keberanian itu tidak lahir dari kemampuan manusia semata, melainkan dari relasi yang hidup dengan Kristus. Kehidupan doa, Ekaristi, pembacaan Kitab Suci, dan keterlibatan dalam komunitas menjadi sumber kekuatan bagi setiap orang muda untuk bertumbuh dalam iman.
“Kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Karena itu, sebelum menjadi pewarta, kita harus terlebih dahulu bertumbuh dalam relasi yang mendalam dengan Kristus,” katanya.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif. Wijaya, peserta dari Paroki Santa Maria Palembang, mengajukan pertanyaan mengenai penyebab banyaknya OMK yang pasif serta cara membangkitkan kembali keterlibatan mereka dalam kehidupan menggereja.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Budi menjelaskan bahwa banyak orang muda berusia 18 hingga 30 tahun sedang berada dalam fase pencarian jati diri dan mengalami berbagai krisis kehidupan. Pada masa ini mereka lebih membutuhkan relasi yang tulus daripada sekadar mengikuti kegiatan atau program.
“Orang muda saat ini mencari relasi yang otentik. Mereka perlu dirangkul sebagai teman seperjalanan. Tanpa kedekatan dan ketersentuhan, mereka akan sulit terlibat secara aktif dalam kehidupan Gereja,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendampingan orang muda tidak dapat dilakukan dengan pola yang sama kepada setiap orang. Pendamping dipanggil untuk berjalan bersama OMK, mengenali potensi, talenta, serta pergumulan mereka, terutama bagi yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Pendampingan yang personal, konsisten, dan berkelanjutan menjadi kunci agar kaum muda mampu bertumbuh menjadi murid Kristus yang dewasa dalam iman dan siap melayani Gereja.

Dalam kesempatan itu, Budi juga mengakui bahwa kejenuhan dalam pelayanan merupakan pengalaman yang wajar dialami setiap pelayan. Namun, kejenuhan tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan panggilan.
“Ketika rasa jenuh datang, ingatlah kembali tiga langkah sederhana: to know, to love, and to serve. Semuanya berpusat pada Yesus Kristus yang menjadi sumber kekuatan pelayanan kita,” pesannya.
Menutup sesi, seluruh peserta diajak memiliki semangat seorang murid yang selalu terbuka untuk dibimbing dan dibina. Tanpa kerendahan hati untuk terus belajar dan bertumbuh, orang muda akan sulit berkembang dalam iman maupun menjadi pewarta Injil. Melalui pembinaan ini, OMK diharapkan tidak hanya hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi sungguh menjadi murid Kristus yang berakar dalam iman, bertumbuh dalam komunitas, dan diutus menjadi terang bagi dunia, sejalan dengan tema besar KYD 2026.
***BAY
