1Raj. 11:29-32; 12:19; Mzm. 81:10-11ab,12-13,14-15; Mrk. 7:31-37; BcO Kej 45:1-15.21b-28; 46:1-7; (H)

Seruan Pembebasan
Saudara-saudari terkasih, alkisah ada seorang bapak bernama Arman. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang terjebak dalam kegelisahan hati yang medalam. Ia sedang menatap sebuah foto usang bersama sahabatnya dengan perasaan yang terbelah. Semuanya bersumber dari amarah dan ego yang menciptakan “garis pembatas”, yang menyebabkan keterasingan dari orang yang dikasihinya. Kebenaran yang dulu ia pertahankan malah menjadi tembok tuli yang mebuatnya tidak bisa mendengar bisikan kasih dari Tuhan. Kondisi inilah yang dinamakan “bisu-tuli” rohani yang membuat seseorang kehilangan arah, padahal tinggal lima hari lagi sebelum dahinya ditandai dengan abu.
Dalam keheningan yang menyiksa, ia teringat akan kisah Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya. Namun Yusuf tetap merangkul mereka dalam semangat rekonsiliasi (pengampunan) yang membuatnya terbuka terhadap rencana Allah yang melampaui luka pribadinya. Pak Arman bercermin dan menyadari bahwa hidupnya dapat disembuhkan dengan melepaskan topeng kebanggan dan keberanian yang menyesatkan. Serta mengakui bahwa di hadapan Allah, ia hanyalah debu yang sedang berjalan menuju penebusan.
Pak Arman merasa seolah-olah, Yesus sedang meletakkan jari-Nya ke dalam telinganya yang beku dan berkata, “Effata!”, yang artinya “Terbukalah!”. Kata ini adalah seruan pembebasan, agar saluran komunikasi yang tersumbat oleh dosa dan gengsi dapat segera pulih. Ia berfikir bahwa abu yang akan ia terima sebentar lagi adalah tanda nyata untuk membersihkan “debu” dendam masa lalu, sebelum ia menerima “abu” sebagai lambang pemulihan akibat dosa. Baginya, akan sia-sia ia berjuang melakukan pantang dan puasa jika telinganya masih tertutup bagi sesama, juga lidahnya yang masih kelu untuk mengucap kata “maaf”. Ia yakin keterbukaanya ini akan berbuah pembebasan dari hal-hal negatif yang telah terjadi dimasa lalu dan membuat hatinya siap untuk mengikuti masa penuh rahmat ini.
Saudara-saudari terkasih, Tuhan merindukan umat yang mau mendengar suara-Nya, bukan yang keras hati. Pak Arman menyadarkan kita bahwa, perjalanan tobat sejati bukan dimulai menunggu abu diusapkan di dahi, melainkan saat hati siap untuk dijamah oleh tangan Kristus, agar segala yang retak dapat disatukan kembali dalam kasih yang menguatkan dan memulihkan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Natalius Alan Dwi Putra Sihombing-Tingkat I
Foto: Pinterest
