Renungan Harian Senin, 23 Maret 2026

Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62 (panjang) atau Dan. 13:41c-62 (singkat); Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11. BcO Bil. 12:16-13:3,17-33.

Memulai Kembali

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita diberi kesempatan untuk merenungkan kisah yang sangat mendalam tentang seorang perempuan yang dibawa oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ke hadapan Yesus. Mereka menjelaskan bahwa perempuan itu tertangkap basah berbuat zinah dan menurut hukum Musa, dia seharusnya dihukum rajam. Mereka berharap Yesus akan memberikan jawaban yang bisa menjebak-Nya baik dengan menghukum perempuan tersebut atau mengabaikan hukum.

Saat mereka mendesak Yesus justru Yesus sendiri tampak tenang. Dia tidak langsung memberikan jawaban. Sebaliknya, Dia menundukkan tubuhnya dan mulai menulis di tanah. Banyak yang bertanya-tanya tentang apa yang dituliskannya. Mungkin Dia menuliskan dosa-dosa orang-orang yang membawa perempuan itu. Ketika mereka terus mengulangi pertanyaan, Yesus dengan tegas berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Kata-kata itu seperti kilat yang menyadarkan mereka. Satu per satu, mereka mulai pergi, menyadari bahwa mereka juga memiliki dosa. Akhirnya, perempuan itu ditinggal sendirian dengan Yesus. Dia bertanya kepadanya, “Di manakah mereka? Tidakkah seorang pun yang menghukum engkau?” Ketika perempuan itu menjawab tidak ada, Yesus berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”

Dari kisah ini, kita bisa merenungkan banyak hal. Yesus menunjukkan bahwa Dia mengerti kondisi manusia. Kita sering kali cepat menghakimi dan merasa superior ketika melihat kesalahan orang lain, tetapi Yesus mengingatkan kita untuk melihat diri kita sendiri terlebih dahulu. Semua orang memiliki kekurangan dan dosa, dan kita diundang untuk saling mengasihi dan mengampuni.

Yesus juga memberi tahu perempuan itu bahwa meskipun Dia tidak menghukumnya, Dia ingin agar dia tidak jatuh ke dalam dosa lagi. Ini adalah panggilan untuk berubah dan hidup dalam kebenaran. Pengampunan yang Dia tawarkan bukan hanya untuk membebaskan dari hukuman, tetapi juga untuk memberi kesempatan baru.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak satu pun dari kita berhak menghakimi orang lain. Hukum mungkin bisa menegakkan keadilan, tetapi cinta dan pengampunan adalah kekuatan yang membawa keselamatan. Seharusnya kita memperlihatkan kasih dan pengertian kepada sesama, bukan penghakiman.

Ketika kita merenungkan pengampunan yang diberikan Yesus, kita diingatkan bahwa meskipun kita mungkin merasa tidak layak, Tuhan selalu siap memberi kita kesempatan untuk memulai kembali. Kita dipanggil untuk hidup dalam terang kasih-Nya, terus berusaha menjauhi dosa. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Palveus Gonsalves-Tingkat IV

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.