Yes. 42:1-7; Mzm. 27:1-2,3,13-14; Yoh. 12:1-11; BcO Yer. 26:1-15; (U)

Mengasihi Tuhan Dengan Tindakan Nyata
Saudara-saudari yang terkasih, memasuki Pekan Suci Gereja mengajak kita untuk berjalan semakin dekat dengan Yesus yang sedang melangkah menuju salib. Dalam bacaan suci hari ini kita semua diajak melihat siapa Yesus sesungguhnya dan bagaimana kita dipanggil untuk hidup sebagai murid-Nya.
Dalam bacaan pertama dari Kitab Yesaya, kita diperkenalkan dengan sosok Hamba Tuhan yang dipilih dan berkenan di hadapan Allah. Ia tidak berteriak, tidak mematahkan buluh yang terkulai, dan tidak memadamkan sumbu yang berasap. Cara Allah menyelamatkan dunia bukan melalui kekerasan atau paksaan, melainkan melalui kelembutan, kesetiaan, dan pengorbanan. Hamba Tuhan ini diutus untuk membawa keadilan, membuka mata orang buta, serta membebaskan mereka yang hidup dalam kegelapan. Nubuat ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus, Sang Mesias yang memilih jalan kerendahan hati dan salib.
Injil hari ini mengisahkan peristiwa di Betania, ketika Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu. Tindakan Maria adalah ungkapan cinta yang tulus, total, dan tanpa perhitungan. Ia tidak peduli pada penilaian orang lain yang terpenting baginya adalah mempersembahkan yang terbaik bagi Yesus. Berbeda dengan Yudas Iskariot justru mempersoalkan tindakan itu dengan kata-kata yang tampak rohani, namun sesungguhnya menyembunyikan hati yang tidak tulus dan tertutup terhadap kasih.
Melalui bacaan hari ini, kita diajak bercermin: apakah kita sungguh mencintai Yesus seperti Maria? atau justru menyerupai Yudas Iskariot yang tampak dekat dengan Tuhan, tetapi hatinya jauh? Pekan Suci menjadi saat yang tepat untuk memurnikan motivasi iman kita, agar kita mengikuti Kristus bukan karena kebiasaan atau tuntutan sosial, melainkan karena kasih yang sejati. Yesus menerima minyak yang dicurahkan Maria sebagai persiapan bagi wafat-Nya Ia sadar bahwa penderitaan dan kematian sudah di depan mata, namun tetap menerimanya dengan ketaatan penuh kepada kehendak Bapa.
Di sinilah tampak wajah sejati Sang Hamba Tuhan yang rela memikul salib demi keselamatan manusia. Karena itu, di awal Pekan Suci ini, marilah kita melangkah secara konkret meluangkan waktu untuk berdoa dan hening, berani memberi yang terbaik bagi Tuhan seperti Maria, serta menjauhi sikap iman yang hanya berhenti pada kata-kata. Semoga kita setia berjalan bersama Yesus tidak lari dari salib, tidak mencari kenyamanan semata, tetapi berani mengasihi sampai tuntas, agar hidup kita memancarkan kasih Kristus bagi dunia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yusuf Adven Papahang-Tingkat V1
Foto: Pinterest
