
Paus Leo XIV merilis pesan untuk Hari Panggilan Sedunia ke-63, yang tahun ini dirayakan pada Minggu, 26 April, bertepatan dengan Minggu Paskah IV yang dikenal sebagai Minggu Gembala Baik.
Dalam pesannya, Paus menegaskan bahwa setiap panggilan adalah anugerah yang tak terukur, baik bagi Gereja maupun bagi mereka yang menerimanya dengan sukacita. Hari ini menjadi saat rahmat untuk merenungkan dimensi batin dari panggilan. Sebuah penemuan akan karunia Allah yang tumbuh dalam kedalaman hati manusia. Sekaligus, ini adalah undangan untuk menelusuri jalan hidup yang indah, tempat Sang Gembala menuntun umat-Nya.
Keindahan Kristus yang Mengubah Hidup
Mengacu pada Injil Yohanes, di mana Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala Baik yang rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, Paus menegaskan bahwa di dalam Dia terpancar kasih Allah yang sejati. Kristus adalah Gembala yang menarik kita kepada-Nya. Tatapan-Nya menyingkapkan bahwa hidup menjadi sungguh indah ketika kita mengikuti-Nya. Namun, keindahan ini hanya dapat dikenali oleh mereka yang mau berhenti sejenak, mendengarkan, berdoa, dan membuka hati terhadap kehadiran-Nya.
Ketika seseorang menjadi murid Kristus, ia tidak hanya mengikuti, tetapi juga diubah menjadi semakin indah karena disentuh oleh keindahan Kristus sendiri. Pengalaman ini pernah dialami oleh Saint Augustine, yang setelah melewati masa penuh kesalahan, akhirnya menemukan terang ilahi yang membimbingnya keluar dari kegelapan. Dari sinilah tampak bahwa relasi dengan Allah yang dibangun dalam doa dan keheningan akan membuka hati manusia untuk menerima dan menanggapi panggilan hidupnya.
Panggilan: Petualangan Kasih dan Kebahagiaan
Panggilan bukanlah paksaan, bukan pula pola seragam yang harus diikuti semua orang. Sebaliknya, panggilan adalah sebuah petualangan kasih dan kebahagiaan. Karena itu, Paus mengajak seluruh Gereja baik keluarga, paroki, komunitas religius, para gembala, hingga umat beriman untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang memungkinkan panggilan itu tumbuh, dipelihara, dan berbuah. Hanya dalam suasana iman yang hidup, doa yang tekun, dan pendampingan persaudaraan, benih panggilan dapat berkembang hingga matang.
Panggilan Berawal dari Pengalaman akan Allah
Setiap panggilan bermula dari pengalaman akan Allah yang adalah kasih. Tuhan mengenal kita secara mendalam, bahkan merancang jalan hidup yang unik bagi setiap orang. Namun relasi ini tidak sepihak. Kita pun dipanggil untuk mengenal Allah melalui doa, Sabda-Nya, sakramen, kehidupan Gereja, dan kasih kepada sesama.
Kaum Muda dan Undangan untuk Hidup Penuh Makna
Secara khusus, Paus mengundang kaum muda untuk mendengarkan suara Tuhan yang memanggil mereka kepada hidup yang penuh dan berbuah. Mereka diajak untuk mengembangkan talenta yang dimiliki, sekaligus menyerahkan kelemahan mereka dalam terang salib Kristus. Untuk itu, kaum muda dianjurkan untuk: meluangkan waktu dalam adorasi Ekaristi, merenungkan Sabda Tuhan secara setia, serta terlibat aktif dalam kehidupan Gereja.
Melalui kedekatan dengan Kristus, mereka akan menemukan panggilan hidup mereka. Entah dalam perkawinan, imamat, diakonat tetap, atau hidup bakti. Karena pada akhirnya, setiap panggilan adalah anugerah besar yang membawa sukacita, baik bagi pribadi maupun Gereja.
Teladan Saint Joseph: Percaya dalam Ketidakpastian
Paus juga mengangkat teladan Santo Yosef, yang tetap percaya kepada Allah bahkan ketika hidupnya dipenuhi ketidakpastian. Dalam situasi yang sulit dipahami termasuk kehamilan Maria yang misterius, ia memilih untuk percaya dan taat. Santo Yosef menjadi contoh iman yang total: percaya ketika segala sesuatu tampak gelap dan tidak sesuai rencana. Dari sini kita belajar bahwa mengenal Tuhan berarti berani mempercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya, bahkan ketika jalan-Nya berbeda dari harapan kita.
Panggilan sebagai Proses yang Terus Bertumbuh
Panggilan bukanlah sesuatu yang sekali jadi, melainkan sebuah proses yang terus berkembang. Ia bertumbuh dalam relasi yang hidup dengan Tuhan setiap hari. Seperti ranting yang melekat pada pokok anggur, hidup kita pun harus berakar dalam Kristus. Dalam relasi itulah kita dimurnikan, dibentuk, dan dikuatkan untuk menjawab panggilan-Nya. Karena itu, panggilan perlu: dijaga, dipelihara, dan terus dipupuk melalui doa serta perjumpaan harian dengan Allah.
Penutup: Berhenti, Mendengarkan, dan Percaya
Akhirnya, Paus mengajak semua orang untuk berani berhenti sejenak, mendengarkan suara Tuhan, dan mempercayakan diri kepada-Nya. Dengan cara itu, panggilan hidup kita akan semakin matang, membawa kebahagiaan pribadi, serta menghasilkan buah yang melimpah bagi Gereja dan dunia. Sebagai penutup, Paus memohon doa perantaraan Perawan Maria, teladan penerimaan batin dan pendengaran yang penuh iman, agar senantiasa mendampingi setiap orang dalam perjalanan panggilannya.
**Deborah Castellano Lubov
Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-03/pope-leo-s-world-day-of-vocations-message-2026.html
