Renungan Harian Senin, 6 April 2026

Kis. 2:14,22-32; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Mat. 28:8-15.

Jangan Takut

Saudara-saudari terkasih, dalam injil hari ini diceritakan: pagi-pagi benar Maria Magdalena dan teman-temannya melangkah menuju kubur dengan hati yang berat. Mereka membawa minyak rempah, membawa duka, dan membawa rindu kepada Yesus yang telah mereka kenal dan cintai. Tidak ada yang mereka bayangkan selain merawat jenazah dengan hormat—itulah satu-satunya hal yang masih bisa mereka lakukan. Namun, apa yang mereka temukan jauh melampaui semua perkiraan: kubur yang terbuka, batu yang terguling, dan kabar yang tak terbayangkan, “Ia telah bangkit!”

Mereka pun berlari dengan dua perasaan sekaligus: takut dan sukacita besar. Dua hal yang tampaknya sulit berjalan bersama, namun justru nyata di pagi Paskah itu. Mereka takut karena peristiwa itu melampaui akal manusia, tetapi juga dipenuhi sukacita karena Dia yang mereka kasihi ternyata tidak dikalahkan oleh maut. Pengalaman ini pun sering kita alami ketika berhadapan dengan karya Allah yang melampaui pemahaman kita.

Ketika Yesus menyapa mereka dengan kata, “Salam,” ketakutan itu berubah menjadi penyembahan yang penuh hormat. Yesus tidak memberi perintah yang rumit, melainkan pesan yang sederhana namun mendalam: “Jangan takut. Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku.” Inilah perutusan bagi mereka, dan juga bagi kita. Sering kali kita merasa takut dalam menjalani hidup atau dalam bersaksi tentang kebaikan, tetapi sapaan Yesus tetap sama—Ia mengundang kita untuk melepaskan kecemasan dan menjadi pembawa kabar sukacita bagi sesama.

Saudara-saudari terkasih, berbeda dengan sukacita para perempuan itu, kita juga melihat sisi lain dari kisah ini. Para penjaga dan imam-imam kepala justru menyusun cerita untuk menutupi kebenaran kebangkitan. Mereka memilih jalan kebohongan demi mempertahankan kenyamanan dan kepentingan mereka. Kisah ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kebenaran sering kali terasa mengganggu bagi mereka yang tidak siap menerimanya. Bahkan dalam hidup kita sendiri, tidak jarang kita tergoda untuk menenangkan hati nurani dengan berbagai alasan, agar tidak perlu hidup seturut kehendak Tuhan yang menuntut kejujuran dan keberanian.

Karena itu, marilah kita bertanya pada diri kita: apakah kita seperti para perempuan yang dengan sederhana namun berani mewartakan Kristus, atau justru seperti mereka yang memilih diam demi rasa aman? Kebangkitan Kristus adalah kebenaran yang tidak dapat disembunyikan atau disuap oleh apa pun. Semoga hati kita senantiasa dipenuhi sukacita Paskah, sehingga setiap kata dan tindakan kita menjadi sarana kebenaran yang membebaskan, bukan kebohongan yang membelenggu. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Yohanes Deo-Tingkat III

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.