Tantangan Formasi di Era Digital: Mgr. Aloysius Sudarso Tekankan Pentingnya Resiliensi dan Safeguarding

Foto : Komsos KAPal

Menyongsong perayaan 100 tahun kehadiran Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di Palembang, sebuah workshop bertajuk “How To Be a Good Formator di Zaman Artificial Intellegence” resmi dibuka di Rumah Retret Giri Nugraha, Kamis (7/5/2026) sore. Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 100 formator dari jenjang seminari menengah hingga bina lanjut ini menghadirkan pemikiran mendalam dari Uskup Emeritus Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ.

Dalam pengantarnya, Mgr. Sudarso menekankan bahwa pendampingan para calon imam dan religius saat ini harus dilakukan secara holistik dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Ia menyoroti tiga aspek utama yang menjadi pilar pembinaan, yaitu Psikologi, Kitab Suci, dan Hukum Gereja.

Foto : Komsos KAPal

Integritas Pribadi dan Perlindungan

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah mengenai safeguarding atau perlindungan anak dan dewasa rentan. Mgr. Sudarso mengingatkan bahwa aspek ini merupakan isu mendesak yang dapat menjadi bencana bagi gereja dan tarekat jika diabaikan.

“Para formator tidak cukup hanya membekali dengan nasihat rohani saja, tetapi harus mampu mendeteksi kematangan pribadi calon,” tegasnya.

Bapa Uskup juga menekankan pentingnya mengelola dan menyelesaikan “unfinished business” atau luka-luka psikologis masa lalu, seperti masalah kedewasaan emosional dan seksualitas agar tidak mengganggu penghayatan imamat dan kaul di masa depan.

Mgr. Aloysius Sudarso | Foto : Komsos KAPal

Menghadapi Era Digital

Lebih lanjut, Mgr. Sudarso juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental di era digital. Ia menengarai adanya tantangan serius berupa adiksi teknologi, pornografi, hingga krisis identitas yang memengaruhi relasi komunitas.

Ia mendorong para formator untuk membantu formandi memiliki resiliensi atau daya tahan psikologis dalam menghadapi kesepian (loneliness) dan tekanan dalam pelayanan. Di tengah dunia yang menawarkan ribuan pilihan namun minim ukuran nilai, formasi diharapkan mampu menemukan keheningan agar keputusan yang diambil memiliki kemurnian nurani.

Foto : Komsos KAPal

Menghidupi Selibat

Terkait hidup selibat yang sering dipandang negatif oleh dunia modern, Mgr. Sudarso mengajak para formator untuk menanamkan makna selibat sebagai bentuk “agape” atau cinta universal. “Untuk selibat ini membutuhkan kesehatan mental yang cukup stabil supaya tidak memandang selibat dengan cara penekanan nafsu, tetapi cinta yang luas namun tanpa memiliki secara ekslusif,” tegasnya

Diskusi Kasus Nyata

Agar seminar tidak terjebak dalam teori, Bapa Uskup yang aktif dalam pelayanan Caritas Indonesia ini mengusulkan adanya diskusi kasus anonim mengenai perilaku kandidat yang bermasalah. Tujuannya agar formator lebih percaya diri dalam mengambil keputusan sulit, apakah seorang calon layak didorong maju atau lebih baik mencari jalan hidup lain.

Foto : Komsos KAPal

Menutup pesannya, Bapa Uskup mengajak para formator untuk terus mencari jalan atau pendekatan baru dalam mendampingi Generasi Z dan Alpha yang menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat.

Kegiatan workshop yang berlangsung selama 4 hari, mulai 7-10 Mei dan menghadirkan sejumlah pembicara di antaranya Romo Yohanes Rasul Susanto SCJ, Romo Paulus Miki Tobat, Sr. M. Fransita FCh, dan Romo Paulus Halek SSCC ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi para pendamping di seluruh wilayah Indonesia, khususnya dalam mengelola komunitas yang majemuk dan lintas budaya.

***TJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.