Mendalami Pesan Paus Leo XIV dalam Pelatihan Jurnalistik dan Videografi Dekanat Lubuklinggau

Diakon April sedang memberikan materi refleksi Paus Leo XIV. | Foto: Komsos Lahat

Lahat – Setelah dibuka melalui perayaan Ekaristi, kegiatan pelatihan jurnalistik dan videografi bagi para pegiat komunikasi sosial Dekanat Lubuklinggau dilanjutkan dengan sesi materi pada (15/5/2026) Jumat malam di aula Paroki Santa Maria Pengantara Rahmat Ilahi Lahat.

Materi pertama disampaikan oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dengan tema “Pastoral Digital: Menjaga Suara dan Wajah Manusia” yang merefleksikan pesan Paus Leo XIV pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang akan diperingati pada Minggu Paskah VII, 17 Mei 2026 mendatang.

Dalam pemaparannya, Diakon Bednadetus menegaskan bahwa dunia digital saat ini telah menjadi ruang hidup baru bagi manusia modern. Karena itu Gereja tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus hadir sebagai pewarta kasih Kristus di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.

“Dunia digital telah menjadi ruang pewartaan baru. Gereja dipanggil hadir bukan sekadar aktif, tetapi menjadi saksi kasih Kristus yang nyata di tengah algoritma,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Peserta pelatihan jurnalistik dan video. | Foto: Komsos Lahat

Ia juga menekankan bahwa teknologi seharusnya membantu manusia, bukan justru menghilangkan martabat manusia. Mengutip refleksi Paus Leo XIV, Diakon Bednadetus mengingatkan pentingnya menjaga identitas dan kemanusiaan di tengah arus kecerdasan buatan.

“Teknologi harus melayani manusia, bukan menggantikan martabat manusia,” katanya.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami makna “suara dan wajah manusia” sebagai identitas yang unik dan sakral. Menurutnya, media digital sering kali membuat manusia terjebak dalam budaya instan, polarisasi, dan manipulasi informasi. Karena itu para pegiat Komsos dipanggil menjadi pembawa harapan dan kebenaran.

“Menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda kasih Allah yang melekat dalam diri manusia. Manusia bukan sekadar algoritma,” tegasnya.

Romo Paulus Tugiyo tampak hadir di antara peserta pelatihan. | Foto: Komsos Lahat

Selain membahas tantangan dunia digital seperti hoaks, deepfake, cyber bullying, dan budaya kebencian, Diakon Bednadetus juga mengajak para peserta untuk menjadi “misionaris digital” yang kreatif, bijaksana, dan pastoral. Ia menekankan bahwa karya komunikasi Gereja harus menghadirkan nilai kasih, kejujuran, dan perjumpaan nyata.

“Dunia digital membutuhkan wajah-wajah yang membawa harapan,” ujarnya.

Pada akhir sesi, para peserta diajak untuk semakin aktif mengembangkan literasi media dan kecerdasan buatan (Media & AI Literacy/MAIL) agar mampu menggunakan media sosial secara bertanggung jawab dan kritis. Melalui pelatihan ini, para pegiat komunikasi sosial diharapkan mampu menghadirkan konten-konten yang inspiratif, edukatif, dan membangun iman umat di tengah perkembangan dunia digital.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.