Romo Tejo yang terkasih, saya, sebut saja bernama Cyntia, sudah menikah sepuluh tahun. Saya dan suami berbeda usia tiga tahun. Sejak awal menikah saya tidak pernah diberi nafkah baik lahir maupun batin. Tetapi kenyataannya kami sudah mempunyai dua orang anak.
Dari tahun 1996 saya sudah tahu suami saya sering selingkuh dengan wanita lain entah itu saya lihat dengan mata kepala sendiri atau mendengar cerita orang lain. Sekarang ini saya berwiraswasta untuk memenuhi kebutuhan saya dan anak-anak. Saya juga ingin tenang dalam mencari nafkah dan tidak mau memikirkan dia lagi.
Mengenai masalah saya ini, saya pernah membaca dalam statuta Keuskupan Palembang bahwa Gereja mengijinkan suami istri pisah ranjang. Apakah masalah yang saya hadapi ini bisa juga dijadikan salah satu sebab suami istri bisa pisah ranjang? Atas nasihat dan petunjuk romo, saya ucapkan terima kasih.

Ibu Cyntia yang sedang bingung. Saya melihat ada sedikit kejanggalan dalam surat ibu di atas. Anda mengatakan bahwa Anda sudah sepuluh tahun menikah. Cyntia tidak pernah diberi nafkah oleh suami baik lahir maupun batin. Namun sekarang ini kalian sudah mempunyai dua orang anak. Pertanyaan nakal saya adalah ‘Lalu dua anak yang sekarang ini anak siapa, karena bukankah sebagai istri, Cyntia tidak pernah diberi nafkah batin?’ Saya merasa bahwa ini masalah yang ingin Anda sampaikan. Tetapi masalahnya apakah suami yang selingkuh, tidak bertanggungjawab atas kehidupan istrinya ini bisa menjadi alasan untuk pisah ranjang?
Menurut saya, masalah pokoknya bukan terletak pada apakah masalah yang terjadi ini cukup dijadikan alasan untuk memintakan ijin dari Gereja atau tidak. Tetapi bagaimana masalah yang terjadi dalam keluarga ini bisa diselesaikan secara damai dan mempersatukan kembali suami istri dalam keluarga sesuai dengan nilai-nilai kristiani?
Perlu Anda ketahui bahwa sifat pemberian ijin pisah ranjang dari Gereja hanyalah sementara. Artinya, bila dalam keadaan yang sangat terpaksa, suami istri tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi baiklah mereka tidak berkumpul sebagai suami istri. Gereja menjadi saksi resmi dan merestui kehendak suami istri untuk menjalankan salah satu tugas pokok suami istri, yakni saling memberikan diri dalam hubungan badan sebagai suami istri.
Kesempatan ini, pisah ranjang, diberikan kepada suami istri untuk saling merenungkan perjalanan kehidupan keluarga mereka sambil mencari kemungkinan yang terbaik untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi sifat ijin pisah ranjang ini hanya sementara. Ini bukan dispensasi bahwa suami istri dengan ijin Gereja ini boleh pisah untuk selamanya. Ijin ini diberikan untuk membantu keluarga ini untuk berpikir serius mengenai hubungan mereka sebagai suami istri.
Yang mendesak untuk mendapat perhatian sekarang adalah masalah relasi suami istri itu sendiri. Anda mesti mencari kemungkinan yang menjadi sebab suami Anda melakukan perselingkuhan. Setelah merasa yakin menemukan penyebab perselingkuhan ini, lalu menjadi jalan keluar untuk mengatasi masalahnya.
Menurut para ahli, ada beberapa sebab yang membuat pasangan suami istri melakukan perselingkuhan atau penyelewengan terhadap kesetiaan janji mereka. Sebab-sebab itu antara lain sikap hedonistik, yaitu sikap yang mengutamakan kenikmatan. Orang yang mempunyai sikap demikian sukar sekali berkorban. Kenikmatan adalah tujuan dari segala-galanya dalam hidupnya. Main seks adalah sama dengan pergi ke restoran. Ia melihat wanita atau pria sebagai obyek seks belaka. Moralnya tidak berkembang. Orang yang demikian akan mudah sekali menyeleweng atau selingkuh dalam hidup perkawinannya. Kesetiaan adalah suatu kata yang sulit untuk diwujudkan.
Nafsu atau dorongan seks yang tidak seimbang antara suami dan istri adalah faktor lain yang bisa menjadi penyebab perselingkuhan. Bila salah satu pasangan mulai mengeluh, tidak puas dan sebagainya, maka harus menjadi suatu perhatian bagi mereka berdua. Ketidakpuasan dalam hal ini akan mengakibatkan penyelewengan.
Pasangan bujangan yaitu pasangan yang walaupun sudah menikah tetapi masih berlagak bujangan merupakan pasangan yang mudah menyeleweng. Pasangan ini mudah menjadi mata keranjang dan menjadi tidak setia. Ia sering tidak melibatkan pasangannya dalam kegiatan-kegiatan atau rencana-rencana hidupnya. Perilakunya merupakan ‘kedok diri’ untuk menutupi kelemahan dan kekurangan diri.
Akhirnya, satu hal yang sering membuat orang sungguh berselingkuh adalah adanya ‘kesempatan’. Banyak orang yang setia menjadi menyeleweng karena mereka mendapat kesempatan untuk melakukannya. Hindarilah kesempatan seperti itu dan berani mengatakan ‘tidak’ biarpun hal itu sungguh menyakitkan. Kesempatan untuk menyeleweng merupakan salah satu hal yang sangat besar pengaruhnya.
Ibu Cyntia, inilah hal-hal pokok yang perlu direnungkan dan dibicarakan bersama suami Anda. Seandainya hal ini tetap tidak bisa ditempuh, kiranya lebih bijaksana bila menghubungi dan berbicara dengan orang yang kompeten dan bisa dipercaya. Dalam hal ini saya yakin romo paroki dengan senang hati akan bersedia membantu. Atau mungkin di keuskupan ada pastoral kehidupan keluarga, kepada mereka ibu bisa minta bantuan. Kalau kemungkinan ini tidak bisa dijalankan, pisah ranjang adalah kemungknan terakhir yang terpaksa harus bisa ditempuh.
Semoga semangat keluarga Nasareth menjadi kekuatan dan memberikan inspirasi untuk menyatukan kasih dan hidup dalam keluarga Anda. Tuhan melimpahi Anda dengan berkatNya. **
V. Teja Anthara SCJ

Topik yang menarik,
Perlu di garis bawahi adalah ikatan pernikahan katolik adalah sebuah sakramen yang sangat sakral dan kudus. Jadi menurut saya tolong berkomunikasi dengan wali nikah waktu mereka nikah di hadapan altar Tuhan. Keterbukaan antara suami dan isteri dalam rumah tangga itu sangatlah penting. Terima kasih Tuhan selalu menyertai kita semua, amin..
Mantap Mo Teja.
Menambah wawasan bagi kami sebagai keluarga muda?