Romo Tejo yang terhormat, saya seorang pemuda, berusia 24 tahun tepatnya pada tanggal 14 Juni yang akan datang. Saya dilahirkan dari keluarga Katolik. Sejak kecil saya menjadi pengikut Kristus. Banyak sekali kejadian-kejadian yang menimpa saya dan keluarga saya. Dari kejadian-kejadian itu saya mencoba merefleksikan diri saya, ke manakah arah hidup saya nanti? Apakah saya harus mengikuti isi hati yang selalu dalam dua pilihan? Hidup sebagai biarawan atau berkeluarga?
Saya sendiri merasa terpanggil sejak saya lulus SMP. Setelah saya kelas 3 SMP, saya bermaksud untuk ikut tes, tapi pastor paroki belum mengijinkan untuk tes. Panggilan itu menjadi goyah. Saya berhenti sekolah.
Enam tahun kemudian panggilan itu muncul kembali, setelah saya dapat sekolah. Kini saya ingin membuktikan benarkah saya terpanggil? Untuk membuktikan hal tersebut, maka saya mengikuti tes di seminari. Semua itu atas kemauan saya pribadi dan dukungan dari teman-teman dan saudara-saudara saya.
Tetapi sebelum saya mengikuti tes, saya menaruh simpati terhadap seorang gadis. Saya berjanji pada gadis itu bahwa saya tidak akan mencari gadis lain selain dirinya. Bagaimana ini? Saya mohon bantuan dari romo.
Salam,
B. Frans Ht

Frans yang baik, sering orang berada pada dua pilihan. Mau jadi biarawan atau hidup berkeluarga. Bahkan sebelum orang menikah pun orang terus-menerus mencari untuk suatu saat memilih yang tepat. Dari segi umur, Anda sebenarnya tidak muda lagi. Namun Anda tetap ragu-ragu. Keragu-raguan Anda bisa dimengerti, karena Anda mesti memilih antara hidup membiara atau hidup berkeluarga. Dua-duanya bagi Anda sama menariknya.
Romo memahami itu. Persoalannya apakah Anda mesti berada dalam keragu-raguan? Sampai kapan Anda dapat menjatuhkan pilihan? Langkah yang sudah Anda ambil dengan mengikuti tes masuk seminari memperlihatkan bahwa Anda menjatuhkan pilihan pada hidup membiara. Namun soalnya, Anda sepertinya tidak rela seratus persen. Anda masih punya cadangan pilihan yaitu seorang gadis hasil lirikan mata Anda. Nah, ini sebenarnya yang sering mengganggu pikiran Anda. Menjadi seorang biarawan itu mesti seratus persen. Tidak bisa setengah-setengah dengan membentuk ‘pemain cadangan’. Sama seperti nanti, misalnya, memilih untuk hidup berkeluarga. Anda tidak boleh punya ‘pemain cadangan’. Bisa berabe nanti.
Karena itu Romo mengusulkan agar Anda terus-menerus mengolah diri dengan refleksi-refleksi yang baik. Sebagai orang yang cukup dewasa (berusia 24 tahun) Anda semestinya sudah punya pendirian yang tetap. Ada kekuatiran dari Romo yaitu bahwa kalau Anda memilih masuk seminari, apakah Anda akan tetap pada pilihan Anda itu? Apalagi Anda sudah punya janji terhadap sang gadis untuk tidak memilih gadis lain.
Kalau Anda ingin terus meniti panggilan hidup menjadi seorang biarawan, Anda mesti berani memutuskan untuk meninggalkan gadis itu. Anda mesti secara dewasa memberikan pengertian kepadanya agar ketika Anda sudah di seminari, dia tidak menunggu Anda. Kasihan dia, menunggu ketidakpastian dari seorang yang justru memilih hidup untuk menjadi biarawan.
Namun kalau Anda telah memutuskan untuk masuk seminari, Anda hanya dapat memandang gadis itu sebagai sahabat. Bukan sebagai orang yang menanti kembalinya Anda ke pangkuannya. Demikian juga kalau Anda memilih dia (gadis itu) Anda juga mesti konsekuen. Anda mesti berhenti bermimpi menjadi seorang biarawan. Karena tidak baik memiliki dua tuan. Akhirnya, Romo mendoakan agar Frans sampai pada keputusannya. Salam dan berkat dari Romo.
Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, kebingunan dalam memilih panggilan hidup itu sesuatu yang biasa dalam hidup ini. Bagaimana Anda melalui proses untuk memilih suatu panggilan hidup?
Kedua, ketika mesti berhadapan dengan dilema dalam memutuskan pilihan hidup, jalan apa yang Anda tempuh? Mengapa Anda mengambil jalan itu?
Ketiga, pernahkah Anda mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi logis dalam menjatuhkan pilihan hidup Anda? **
V. Teja Anthara SCJ
