30 Langkah Menuju Kesucian (15)

Tinggal Bersama Yesus

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Doa

“Tuhan Yesus, Engkaulah sumber kehidupan sejati.
Curahkanlah rahmatMu ke dalam hatiku.
Jangan pandang ketidaklayakanku, tetapi lihatlah kerinduanku
Yang ingin hidup baru;
Hidup dalam sukacita yang sempurna!” Amin.

Pengajaran

Untuk bisa tinggal bersama Yesus secara eksistensial dan permanen, kita harus berada dalam kondisi berahmat. Kondisi berahmat ini tidak bisa tergantikan. Ini harus ada indispensable. Syarat ini telah disabdakan oleh Yesus, “Akulah pokok anggur dan kamulah rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa!” (Yoh 15:5).

Ketika kita men-cangkok-kan diri pada pokok anggur ilahi, semua gagasan luhur dan pikiran baik tercurah dalam diri kita; kemurnian akan memancar dari hati kita; keutamaan-keutamaan kristiani akan kita miliki; Dan pekerjaan baik akan kita lakukan. Semua itu mengalir dari rahmat Allah yang tercurah dalam diri kita.

Rahmat Allah itu seperti akar bagi sebatang pohon. Kalau hidup kita berakar pada rahmat Allah, maka proses menuju kekudusan menjadi semakin real. Dalam hal ini Allah lebih berperan dan kita berpartisipasi dalam kuasaNya. PenyertaanNya itu adalah sumber hidup kita dan pasti menghasilkan buah yang berlimpah-limpah.

”Berakarlah dalam Kristus, maka segala sesuatu yang baik pasti memancar dari hidupmu!” seru St Cirilus.

Seperti ranting terpisah dari pokoknya; seperti anggota badan yang terpisah dari kepalanya, pasti tidak lagi menerima kehidupan dari pokoknya, maka pasti tidak akan berbuah dan bahkan mati. Karena itu, Tuhan berkata: “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar!” (5:2.6).

Bagaimana dengan orang yang jatuh ke dalam dosa? Orang ini terpisah dari Yesus Kristus. Orang ini tidak lagi menerima asupan dari pokok anggur; ia tidak lagi minum Darah Kristus. Orang ini mati. Jiwanya kering, kasihan sekali.

St Ignasius Anthiokia berkata, “Darah Kristus tidak lagi mengalir dalam jiwa orang berdosa!” Orang ini menjadi lumpah! Tidak lagi mampu menyadari keindahan beriman, tidak lagi memiliki harapan, dan tidak tertarik pada hal-hal yang rohani. Lama- kelamaan, orang ini kalau tidak bertobat, ia akan kehilangan semangat berdoa, tidak tertarik dengan keutamaan, tidak bisa merasakan nikmatnya berdevosi, dan akhirnya tertutup terhadap keselamatan.

Mari kita camkan kata-kata St Agustinus, “Dalam hidup ini tidak ada dua ranting. Hanya ada satu kemungkinan, yaitu ranting hidup yang harus menyatu dengan pokok anggur atau ranting kering yang harus dilempar ke dalam api!” Kita harus mengambil sikap yang jelas dan tegas: mau menjadi ranting yang menyatu dengan pokoknya atau menjadi ranting kering!

“Jika ranting-ranting Anggur, yaitu anggota Tubuh Mistik Yesus Kristus dapat mengungkapkan betapa banyaknya hal yang mengagumkan dalam relasi antara akar dan ranting; antara anggota dan Kepala Tubuh Mistik, mereka akan selalu bersyukur kepada Allah; mereka akan bersukacita tanpa henti. Banyak hal yang indah dan mengagumkan dalam tinggal bersama Yesus,” kata Bossuet.

Di mana sumber sukacita mereka? Sumber sukacita mereka ada pada kesadaran bahwa akar itu adalah sukacita Ilahi; sukacita yang bersumber dari Yesus; sukacita yang abadi dan sempurna! Yesus sebagai pokok anggur mengkomunikasikan hidupNya kepada mereka yang tinggal di dalamNya seperti relasi pokok anggur dengan rantingnya. Yesus sebagai kepala, mau tidak mau harus berkomunikasi dengan anggotaNya. Di sinilah sukacita Yesus tercurah dalam diri kita. Apakah yang mengalami sukacita hanya kita? Tidak. Keduanya: Yang mencintai dan yang dicintai.

St Thomas mengatakan bahwa kasih itu selalu memiliki dua efek yaitu “memiliki dan memberi. Orang yang mencintai itu melindungi orang yang dicintai, ia juga memperkaya dan membuat sukacita yang dicintainya. Demikian juga orang yang mencintai itu seperti menemukan harta karun – sebongkah mutiara! Baik yang mencintai maupun yang dicintai sama-sama menikmati sukacita bersama; mereka serasa terikat oleh sukacita yang sama!”

Inilah yang disebut dengan kesatuan sejati: satu pikir dan satu kasih. Mereka didorong oleh energi yang sama untuk bertindak bersama secara serasi!” Demikianlah jadinya kalau kita tinggal bersama Yesus! Kita bisa sepikir, sehati dan seperasaan dengan Yesus. Kondisi seperti ini yang mendesak kita ke langkah menuju kesucian!

Bucket Rohani

“Untuk Dia aku hidup, untuk Dia aku mati” – Pater Leo Dehon

Leave a Reply

Your email address will not be published.