Kelahiran Yesus, kata Romo Frans de Sales SCJ, telah disiapkan Allah sejak manusia pertama jatuh dalam dosa. Ini dikatakannya dalam homili Misa Malam Natal dan Hari Raya Natal (24-25/12) di Pos Pelayanan Santa Maria Prabumulih, Stasi Santo Nikolaus Sigam, dan Stasi Unit 12-13. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, kita bisa menemukan nubuatan para nabi tentang kelahiran Tuhan Yesus.


















Migdal-Eder
Yesus lahir di kandang domba, Bethlehem. Tapi bukan sembarang kendang. Lokasinya disebut Migdal-Eder. Bila diterjemahkan dalam bahasa kita, Migdal-Eder berarti Menara Eder atau “Menara Kawanan Domba.
“Ini tempat memelihara domba yang digunakan sebagai korban untuk upacara di Bait Allah,” jelas Romo Frans.
















Seperti yang kita tahu, dalam iman Yahudi, darah anak domba yang dikorbankan menyucikan dosa-dosa manusia. Namun, korban ini tidak sekali, tapi dilakukan setiap tahun jelang paskah Yahudi. Domba yang dikorbankan kepada Allah pun tidak boleh sembarang, harus domba yang tak bercacat.
Yesus yang lahir di Migdal-Eder melambangkan domba tak bercacat yang dikorbankan. Berbeda dengan korban bakaran Perjanjian Lama, Yesus, kata Romo Frans, mengorbankan hidupnya sekali untuk pendamaian dosa-dosa manusia dengan Allah, termasuk dosa adam.
Bethlehem dan Palungan
Kota Bethlehem yang menjadi tempat kelahiran Tuhan kita juga punya arti. “Beth artinya rumah dan Lehem artinya Roti,” jelas Romo Frans.
“Ini mau mengatakan kalau Tuhan Yesus sejak kelahiran-Nya telah disiapkan menjadi Roti, menjadi makanan untuk kita semua.”
Lagi pula, lanjut Romo Frans, Bayi Tuhan dibaringkan di atas palungan, tempat makan hewan. Artinya, “Yesus sudah siap menjadi santapan kita, untuk keselamatan kita.”






Misa Malam Natal diikuti lebih dari seratus umat di Stasi Santo Nikolaus, Sigam. Sedangkan di Pos Pelayanan Santa Maria Prabumulih, lebih dari lima ratus umat. Sekitar dua puluh umat Stasi Unit 12-13 juga mengikuti Misa Natal siang Senin (25/12).
Setelah Misa usai, anak-anak mendapat bingkisan Natal yang telah disiapkan oleh umat, pengurus stasi, dan paroki.
** Kristiana Rinawati

One thought on “Antara Migdal-Eder, Bethlehem, dan Palungan di Prabumulih”