Paus: “Koneksi virtual tidak dapat menggantikan relasi manusia”

Paus Leo XIV kembali menegaskan bahwa dunia digital membawa tantangan besar bagi kehidupan membiara. Hal itu ia sampaikan pada 26 November di Aula Sinode Vatikan, ketika bertemu dengan sekitar 160 peserta Sidang ke-104 Union of Superiors General (USG). Pertemuan tersebut mengusung tema “Connected Faith: Living Prayer in the Digital Age.”

Peluang teknologi

Dalam pesannya, Paus menekankan bahwa teknologi sesungguhnya membuka banyak peluang. Ia memungkinkan komunitas religius memperluas jangkauan misi dan berkomunikasi dengan mereka yang jauh, bahkan dengan orang-orang yang sulit hadir secara fisik. Paus sendiri baru-baru ini menggunakan kesempatan tersebut ketika terhubung lewat livestream dari Vatikan dengan 16.000 peserta National Catholic Youth Conference di Indianapolis, AS.

Paus Leo bersama para peserta Sidang ke-104 Serikat Para Pemimpin Umum (Union of Superiors General). Foto: Vatican Media

Risiko dan tantangan

Meski demikian, Paus Leo mengingatkan bahwa keterhubungan digital dapat memengaruhi kualitas relasi manusia—dan tidak selalu secara positif. Ada godaan besar, katanya, untuk mengganti relasi manusia yang nyata dengan koneksi virtual belaka, padahal yang dibutuhkan dalam kehidupan religius adalah kehadiran personal, pendengaran yang sabar, dan perjumpaan yang mendalam.

Ia mengutip kembali ajaran Paus Fransiskus dalam Christus Vivit, menegaskan bahwa sarana tradisional dalam hidup religius—Kapitel, Dewan, Visitasi Kanonik, dan pertemuan formasi—tidak bisa dipindahkan begitu saja ke dunia digital.

Paus juga memperingatkan bahaya ketika pastoral lebih mengejar efisiensi. Jika hanya sibuk mengelola pelayanan tanpa keheningan dan arah rohani, hidup religius dapat berubah menjadi “perlombaan yang melelahkan,” kehilangan sumber dan tujuan sejatinya.

Berjalan bersama

Yang paling penting, tegas Paus, adalah semangat berjalan bersama sebagai komunitas, sebagai saudara. Mengutip ensiklik Fratelli tutti, ia mengajak para religius untuk membangun “kita” yang lebih kuat daripada sekadar kumpulan individu, serta menciptakan kembali keindahan hidup bersama.

Paus mengingatkan bahwa Gereja adalah tubuh yang hidup dan sinodal, tempat relasi diubah menjadi ikatan suci dan saluran rahmat.

Inti relasi: Allah sendiri

Paus Leo menegaskan bahwa relasi yang paling penting untuk dibangun adalah hubungan dengan Allah. Karena itu, doa adalah dasar hidup bakti: ruang relasi yang membuka hati untuk percaya, meminta, dan menerima.

Dalam doa, kata Paus, manusia menyadari siapa dirinya: makhluk yang membutuhkan segalanya dan bersandar sepenuhnya pada kasih dan penyelenggaraan Tuhan.

Menemukan keseimbangan

Di tengah dunia digital, Paus mengajak para religius untuk menemukan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan kehadiran nyata: “bersama untuk berbicara dan mendengarkan.” Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk memadukan yang lama dan yang baru—nova et vetera—seraya merawat relasi dengan Tuhan dan sesama, tanpa mengubur talenta baru yang diberikan Tuhan karena rasa takut atau kemalasan.

**Daniele Piccini

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va

Leave a Reply

Your email address will not be published.