Paus Leo XIV: Teologi harus membuka diri pada seluruh ilmu pengetahuan manusia

Paus Leo XIV menegaskan bahwa teologi tidak boleh berjalan sendiri, tetapi perlu berdialog dengan seluruh cabang ilmu pengetahuan manusia. Dengan cara itu, Gereja dapat membantu umat menghadapi berbagai tantangan yang muncul dalam kehidupan modern maupun dalam perjalanan Gereja sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan Paus ketika menerima para anggota Komisi Teologi Internasional (International Theological Commission/ITC) yang sedang mengadakan sidang pleno di Roma. Komisi ini dibentuk oleh Paus Paulus VI pada tahun 1969 untuk membantu pembaruan teologis Gereja pasca Konsili Vatikan II.

Mempersiapkan Gereja menyambut tantangan zaman

Paus mengungkapkan penghargaan atas dokumen terbaru Komisi mengenai 1.700 tahun Konsili Ekumenis Nicea, yang menjadi salah satu fondasi utama iman Gereja. Ia menyebutnya sebagai teks penting yang sekaligus mempersiapkan kunjungan apostoliknya ke Turki, tempat konsili itu pernah berlangsung.

Paus Leo mendorong para teolog untuk terus membaca “tanda-tanda zaman” dan mengenali hal-hal baru yang sedang dihadapi umat manusia. Ia menekankan bahwa tugas Gereja adalah mewartakan Kabar Baik dengan kesetiaan kreatif—setia pada warisan iman, namun kreatif dalam menjawab persoalan zaman.

Metode teologi yang kokoh dan terbuka

Dalam arahannya, Paus mengingatkan para teolog untuk tetap mengandalkan ketelitian metodologis, namun juga memperhatikan tiga aspek penting:

  1. Kekatolikan iman — Teologi harus terbuka pada berbagai budaya Gereja lokal di seluruh dunia, sehingga semakin kaya dan mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata.
  2. Kerja lintas disiplin — Teologi perlu bekerja sama dengan berbagai cabang teologi lain, bahkan ilmu-ilmu lain, agar pewartaan Gereja dapat dirumuskan dengan lebih jernih dan relevan.
  3. Kaitan erat antara teologi, doa, dan pengalaman rohani — Terinspirasi oleh para Pujangga Gereja seperti St. Agustinus, St. Bonaventura, St. Thomas Aquinas, St. Theresia dari Lisieux, dan St. John Henry Newman, Paus mengingatkan bahwa teologi tidak boleh berhenti pada teori. Teologi harus lahir dari doa dan menghasilkan kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus.

“Tugas teologi sebagai scientia fidei adalah merenungkan, memancarkan, dan menyebarkan terang Kristus yang mengubah hidup, di tengah perjalanan sejarah manusia,” tegas Paus Leo.

Teologi dan ilmu pengetahuan harus saling mendukung

Paus Leo XIV juga mengingatkan kembali keprihatinan Paus Benediktus XVI tentang terpecah-belahnya ilmu pengetahuan modern dan kecenderungan untuk menyingkirkan refleksi metafisik. Menurut Paus Leo, pemisahan ekstrem antara ilmu alam, ilmu sosial, dan refleksi tentang makna hidup justru merugikan perkembangan ilmu dan umat manusia.

Ia menegaskan: Tidak ada aspek kemampuan manusia yang tidak dapat diterangi oleh iman. Tidak ada cabang ilmu pengetahuan yang boleh diabaikan oleh teologi.

Melalui kajian yang menyeluruh dan berdialog dengan berbagai ilmu, para teolog dipanggil untuk memberi sumbangan berharga bagi Gereja dan dunia, terutama dalam menghadapi krisis kemanusiaan, budaya, dan moral yang muncul di era modern.

**Devin Watkins

Foto: Vatican Media

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Fr. Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va

Leave a Reply

Your email address will not be published.