
Dalam rangka menyongsong perayaan 100 Tahun Suster Fransiskus Charitas, sekitar 100 peserta mengikuti workshop bertema How To Be a Good Enough Formator di Rumah Ret-ret Giri Nugraha pada 7–10 Mei. Kegiatan ini dihadiri para formator, pimpinan komunitas, staf seminari, pendamping asrama, ketua panti, guru, dan kepala sekolah dari berbagai pulau di Indonesia sebagai bagian dari refleksi dan penguatan kualitas pendampingan menuju satu abad pelayanan kongregasi.

Pada hari pertama, Kamis (7/5), workshop dibuka dengan materi pengantar dari Rm. Santo SCJ. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal menuju kursus berkelanjutan bagi para formator pemula di masa mendatang.
“Workshop ini menjadi langkah untuk adanya kursus bagi para formator pemula ke depannya,” ungkap Romo Santo.

Tema workshop berpijak pada konsep good enough parent dari Winnicott, yang menyoroti pentingnya relasi awal antara orang tua dan anak dalam perkembangan emosi. Konsep tersebut dinilai relevan dalam psikologi perkembangan, konseling keluarga, dan formasio panggilan.
“A good enough parent tidak selalu harus sempurna,” jelasnya. Menurut Romo Santo, pendamping yang baik tidak harus selalu cepat menjawab semua kebutuhan, tetapi perlu memberi ruang bagi individu untuk belajar menghadapi kekecewaan kecil yang membangun daya tahan.

Ia menambahkan bahwa tujuan utama pola pendampingan ini adalah membantu anak maupun formandi belajar mengelola frustrasi secara sehat, memiliki kemampuan bangkit, serta menjadi pribadi yang realistis dalam menghadapi dunia yang tidak sempurna.
“Kasih yang dewasa bukanlah kasih yang sempurna, melainkan kasih yang setia dan nyata,” tegasnya.

Dalam konteks formasio, Romo Santo menekankan bahwa formator juga tidak dituntut menjadi sempurna. Mereka tidak harus selalu menuruti semua keinginan formandi, menjelaskan segalanya, atau melindungi dari setiap konflik.
“Kesalahan kecil yang manusiawi dari formator justru membantu membentuk kedewasaan emosi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa formasio yang terlalu mengatur dan protektif dapat menghasilkan pribadi yang taat namun rapuh.
“Jika formasi terlalu protektif, formandi akan menjadi pribadi yang taat tapi rapuh,” kata Romo Santo. “Ia mudah goyah ketika menghadapi tantangan di medan karya.” Sebaliknya, good enough formator dinilai mampu membentuk pribadi yang setia tanpa bergantung pada rasa aman semata.
“Formasio yang tidak selalu membuat aman justru membangun ketahanan iman,” pungkasnya.

Melalui workshop ini, para peserta diajak memahami bahwa formator yang cukup baik adalah mereka yang mampu hadir secara otentik, konsisten, dan manusiawi. Diharapkan, kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membentuk calon pelayan Gereja yang tangguh, dewasa secara emosional, serta siap menghadapi realitas pelayanan dengan iman yang kuat.
***Yuyuani Daro
