Romo Frans Kristi: OMK Dipanggil Menjadi Terang Dunia Lewat Relasi yang Menghidupkan

Foto: Komsos KAPal

Baturaja – Orang Muda Katolik (OMK) diajak untuk menjadi terang dunia dengan membangun relasi yang benar dengan Tuhan, sesama, dan diri sendiri. Ajakan tersebut disampaikan Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komkep KWI), Romo Frans Kristi Adi Prasetya, dalam seminar sore KAPal Youth Day (KYD) 2026 di Gedung Serbaguna (GSG) Tegal Arum, Kamis (9/7/2026).

Romo Frans Kristi merupakan imam diosesan Keuskupan Purwokerto yang selama ini dikenal aktif mendampingi orang muda di berbagai keuskupan di Indonesia. Selain merancang kaderisasi dan formasi OMK di tingkat nasional melalui Komkep KWI, ia juga kerap menjadi narasumber mengenai etika digital, kesehatan mental, kemanusiaan, dan pengolahan luka batin.

Mengawali pemaparannya yang bertema “OMK Terang Dunia”, Romo Kristi mengajak peserta berefleksi melalui kisah anak yang hilang. Menurutnya, banyak orang muda saat ini mengalami krisis relasi. Ada yang “lari dari rumah” karena mengejar validasi dan kenikmatan dunia, tetapi ada pula yang sebenarnya tetap tinggal di rumah, namun kehilangan kasih karena relasinya dengan Tuhan menjadi transaksional.

“Banyak orang muda mencari berkat, tetapi lupa mencari Sang Pemberi Berkat. Padahal relasi dengan Tuhan harus dibangun karena kasih, bukan karena transaksi.”

Ia menjelaskan bahwa dunia modern menghadapkan kaum muda pada tiga godaan besar, yakni citra diri, cinta yang semu, dan orientasi hidup yang hanya mengejar keuntungan. Tekanan untuk selalu diterima, kehadiran relasi digital yang palsu, hingga obsesi mencari uang dapat membuat seseorang kehilangan arah hidup dan menjauh dari kasih Allah.

“Yang mengubah hidup kita bukan rasa takut, tetapi pengalaman bahwa kita sungguh dikasihi Tuhan. Dari pengalaman itulah lahir keberanian untuk mengasihi sesama.”

Mengutip Injil Yohanes 8:12, Romo Kristi menegaskan bahwa Yesus adalah Terang Dunia. Karena itu, setiap orang muda yang mengikuti Kristus dipanggil untuk memancarkan terang tersebut melalui cara hidup sehari-hari. Menurutnya, menjadi terang bukan sekadar berbicara tentang iman, melainkan menghadirkan keteladanan di tengah keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun media digital.

Foto: Komsos KAPal

Sebagai Sekretaris Eksekutif Komkep KWI, Romo Kristi juga mengajak OMK untuk berpindah dari pola pikir yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang berorientasi pada sesama. Ia mengutip seruan dalam dokumen Christus Vivit bahwa pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah “Siapakah aku?”, melainkan “Untuk siapakah aku ada?”. Orang muda dipanggil menemukan jati dirinya dengan menghidupi kasih dan pelayanan.

“Jangan habiskan hidup hanya bertanya siapa aku. Bertanyalah, untuk siapa aku ada. Di situlah Tuhan menunjukkan panggilan hidup kita.”

Menutup seminar, Romo Kristi menghadirkan teladan kaum muda Katolik seperti Santo Aloysius Gonzaga, Santo Pier Giorgio Frassati, Santo Carlo Acutis, serta sejumlah orang muda Indonesia yang telah menjadi terang bagi sesama melalui karya nyata. Ia mengajak seluruh peserta KYD 2026 untuk memulai dari lingkungan terdekat dengan membangun relasi yang akrab dengan Tuhan, peka terhadap krisis di sekitar, dan berani menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari.

“Terang dunia bukan orang yang paling hebat, tetapi mereka yang membiarkan kasih Kristus bersinar melalui hidupnya. Sekarang giliran kalian menjadi terang itu.”

***BAY

Leave a Reply

Your email address will not be published.